10 Ciri-ciri Gangguan Dyscalculia atau Sulit Belajar Matematika Dasar

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Pernahkah anda mendengar atau mengetahui penyakit dyscalculia atau kesulitan dalam belajar matematika? Dyscalculia menurut DSM IV merupakan kekurangan kemampuan matematika yang diukur menggunakan tes terstandarisasi yang mempengaruhi pencapaian akademik dan kehidupan sehari-hari serta tidak bisa dijelaskan oleh kekurangan kemampuan sensori ataupun pendidikan.

Jika mengalami kesulitan belajar karena pengaruh penglihatan yang kurang dan tidak diberikan atau kurang pembelajaran matematika maka tidak bisa diidentifikasikan sebagai dyscalculia.

Masalah yang dimaksud dalam penyakit ini yaitu masalah dalam memahami istilah matematika dasar atau operasi seperti penjumlahan dan pengurangan, simbol matematika atau belajar tabel perkalian. Pada umumnya kesulitan ini akan terlihat pada usia anak menjelang 8 tahun dan pada beberapa anak terlihat pada usia 6 tahun.

Penderita dyscalculia umumnya memiliki IQ atau kecerdasan yang normal atau bahkan melebihi rata-rata dan dapat berinteraksi dengan normal dalam komunikasi dan sosialisasi. Tingkat gangguan dyscalculia dapat bervariasi dari satu anak ke anak yang lain dan biasanya setiap anak kecepatan belajar dan cara belajar berbeda-beda pula.

Pada anak dengan dyscalculia biasanya dibutuhkan waktu dan pembelajaran secara berulang-ulang untuk mempelajari prosedur matematika formal. Beberapa ciri-ciri mudah yang dapat anda cermati untuk menilai kesulitan pembelajaran termasuk dalam dyscalculia antara lain :

  1. Kesulitan dalam memahami maksud penggunaan simbol-simbol perhitungan seperti (petambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian)
  2. Kesulitan di dalam mempelajari dan mengingat fakta-fakta aritmatika seperti makna dan sifat simbol angka, pembandingan, deret.
  3. Kesulitan dalam melaksanakan proses-proses perhitungan matematis termasuk seperti (petambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian). Kesulitan dalam melakukan hitungan matematis seperti kesulitan menghitung transaksi belanja, menghitung jumlah uang ataupun menghitung kembalian uang.
  4. Sering tidak akurat dalam melakukan perhitungan angka-angka seperti proses subsitusi, mengulang terbalik, dan menghitung deret ukur.
  5. Proses penglihatan, visual lemah dan bermasalah dalam memahami bangun ruang.
  6. Kesulitan dalam membedakan dua angka yang berbentuk hampir sama.
  7. Lemah dalam memory jangka panjang khususnya fungsi matematika.
  8. Mengalami disorientasi seperti bingung dalam menentukan jam, tidak dapat menghitung waktu dan arah, tidak memahami peta dan petunjuk arah.
  9. Mengalami hambatan dalam menggunakan konsep waktu seperti sulit mengurutkan kejadian masa lalu ke masa mendatang.
  10. Mengalami hambatan dalam mempelajari musik terutama dalam memahami notasi dan urutan nada. Namun juga terkadang kesulitan dalam mengikuti aktivitas olahraga seperti kebingungan mengikuti arah permainan terutama dengan sistem skor. (MLD)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here