5 Zat Aditif Makanan Yang Berbahaya Bagi Anak-Anak

Ada banyak bahan makanan yang berkontribusi terhadap obesitas dan masalah kesehatan lain yang mengganggu pada anak-anak. Zat aditif makanan adalah bahan umum dalam makanan yang tidak sadar kita beli atau karena kurangnya pengetahuan tentang bahaya dari bahan makanan tersebut. Orang tua dan anak-anak juga bisa termanipulasi oleh pemasaran yang cerdik dari perusahaan makanan. Produk-produk tersebut bisa dipasarkan dengan kemasan “sehat”. Tapi siapa yang bisa menjamin?

Saat ini, banyak sekali jajanan anak yang sekilas tampak menyehatkan namun ternyata mengandung zat aditif yang bisa mengganggu kesehatan. Maka tidak heran, banyak penyakit yang tadinya hanya diderita oleh orang tua tapi saat ini banyak dijumpai kasus penyakit tersebut menyerang juga pada anak-anak.

Zat aditif muncul dari perkembangan teknologi yang juga merambah ke industri makanan. Saat ini, banyak sekali makanan dan minuman instan yang mengandung zat aditif. Tetapi ternyata zat aditif itu ada yang aman untuk dikonsumsi, juga ada yang berbahaya dan beresiko jika termakan atau terminum. Zat aditif makanan dapat menimbulkan efek berbahaya pada tubuh, terlebih pada anak-anak. Efek yang ditimbulkan adalah perubahan tingkah laku, alergi, hingga kerusakan pada sel-sel tubuh. Setiap zat aditif makanan mempunyai pengaruh yang berbeda-beda pada tubuh. Sebagian menyebabkan perubahan hormon, kerusakan sel atau memicu timbulnya penyakit seperti obesitas, migrain dan lain sebagainya.

Berikut adalah beberapa zat aditif makanan yang perlu Anda waspadai bahayanya:

Pemanis buatan

Belakangan ini, banyak makanan dengan pemanis buatan yang semakin menjamur. Aspartame, acesulfame-K, sakarin adalah nama-nama bahan pemanis buatan yang banyak ditemukan dalam minuman soda dan jus buah. Penelitian menunjukkan konsumsi pemanis buatan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati, gangguan pernapasan, penurunan daya ingat hingga tumor otak.

Pewarna buatan

Makanan olahan seperti kue, permen, minuman suplemen, dan es krim cenderung mengandung pewarna buatan. Pewarna artificial (buatan) umumnya dimulai dengan nama FD & C (misal FD&C Blue #1). Pewarna ini terkadang disebut dengan nama E102 (Tartrazine), E110 (Sunset Yellow), dan E129 (Allura red). Pewarna buatan tersebut adalah jenis yang paling banyak digunakan untuk pada permen, sereal, bahkan yoghurt. Efek samping dari zat aditif ini dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan migrain hingga kanker usus. Beberapa penelitian ilmiah telah mengaitkan penggunaan pewarna buatan dengan hiperaktivitas pada anak-anak.

Pengawet kimia

Bahan pengawet umumnya digunakan untuk mengawetkan pangan yang mempunyai sifat mudah rusak. Butylated hydroxyanisole (BHA/ E320), sodium dan sodium benzoat (natrium bensoat/soda benzoat/E211) banyak ditemukan pada makanan kemasan seperti jelly, margarine, selai dan minuman ringan. Pengawet kimia dapat menimbulkan rasa pusing, sesak napas, dan sakit maag.

Gula tambahan

High fructose corn syrup (HFCS), corn syrup (gula jagung) dan dekstrose adalah beberapa nama turunan dari pemanis buatan yang banyak digunakan dalam minuman ringan, biscuit dan saus tomat. Konsumsi HFCS dosis tinggi dan terus menerus bisa mengakibatkan obesitas, kerusakan hati dan meningkatkan risiko diabetes ketika dewasa. Sedangkan gula tambahan yang terkandung pada produk susu dapat mengurangi nilai gizi susu serta mengakibatkan kelebihan glikemia dan insulin.

Garam tambahan

Sekitar 80 persen garam dari makanan harian berasal dari makanan olahan. Saat garam ditambahkan pada banyak makanan, resiko menurunnya kesehatan seseorang menjadi meningkat. Hal ini terjadi karena konsumsi garam berlebih yang banyak terdapat makanan cepat saji dan kemasan. Anak-anak yang menyukai makanan dengan kadar garam tinggi berisiko mengalami kerusakan hati dan penyakit jantung. Maka dari itu, penting untuk memerhatikan kandungan garam yang tertera pada kemasan makanan.

 *pic visianinfo.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here