Akibat Memaksa Anak Belajar Terus Menerus

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Menjadi orang tua adalah harapan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi setiap pasangan yang sudah menikah. Namun demikian, tantangan dan tanggung jawab menanti seiring dengan peran ini. Anak membutuhkan tidak hanya dicukupi kebutuhan sandang pangan saja; tetapi juga asuhan, didikan, waktu, bahkan dukungan dari kedua orang tuanya. Seringkali orang tua kurang memahami hal ini, dan menerapkan apa yang mereka sangka baik bagi anak.

Salah satu fenomena yang cukup sering terjadi adalah beberapa orang tua cenderung memaksa anak belajar terus menerus. Hal ini lumrah terjadi karena paradigma yang berkembang di masyarakat adalah bahwa prestasi akademis menentukan kesuksesan karir di masa depan. Namun, pada faktanya, dengan perkembangan zaman, kita mengetahui ada banyak kecerdasan lain yang juga memiliki andil dalam menimbulkan kesuksesan.

Di samping itu, memaksa anak belajar mendatangkan beberapa dampak yang buruk bagi anak, orang tua, maupun lingkungan sekitarnya. Berikut ini beberapa akibat buruk yang bisa terjadi pada anak yang terus dipaksa belajar:

  • Kurang memiliki inisiatif dan tidak mampu mengambil keputusan

Anak yang sering dipaksa belajar bisa tumbuh menjadi orang yang berorientasi pada tugas/perintah. Anak hanya akan menunggu diperintah sebelum berbuat sesuatu. Anak tidak memiliki inisiatif untuk bertindak jika tidak ada yang menyuruh. Ketika diperhadapkan dengan situasi yang menuntut anak untuk membuat keputusan, anak menjadi tidak berani mengambil sikap.

  • Mulai memberontak dan berperilaku agresif

Pemaksaan dari orang tua bisa menjadi bumerang bagi orang tua itu sendiri. Pada beberapa anak, terlalu sering dipaksa memunculkan kemarahan dan keinginan memberontak. Hal ini bisa menyebabkan anak melakukan hal-hal yang agresif, entah itu melawan orang tua atau tindakan merusak diri sendiri.

  • Tidak jujur pada orang tua

Kondisi yang mendesak bisa membuat orang menjadi kreatif, bisa secara positif maupun negatif. Anak yang dipaksa belajar terus menerus bisa mencari cara untuk menipu orang tuanya. Misalnya: berpura-pura belajar ketika orang tua mengawasi, tetapi main game atau membaca komik ketika orang tua tidak tahu.

  • Menutup diri dan sulit bersosialisasi

Anak yang sering dipaksa belajar biasanya kurang memiliki waktu untuk bergaul, sementara kecerdasan sosial dibangun dari hubungan dengan orang lain. Hal ini menyebabkan anak cenderung menutup diri, bisa karena minder tetapi bisa juga karena menjadi egois, sehingga anak kesulitan berteman dengan orang lain.

  • Menjadi pribadi yang ambisius dan perfeksionis

Pemaksaan untuk belajar terus menerus demi prestasi akademis dapat membentuk pola pikir yang salah pada anak. Orientasi anak dapat berpusat pada target/hasil, dan bukan pada proses. Ketika suatu hari anak mengalami kegagalan, misal mendapat nilai yang kurang baik, anak bisa mengalami stres. Selain itu, hal ini bisa menjadikan anak pribadi yang ambisius. Anak bisa menghalalkan segala cara hanya demi tidak gagal.

  • Kecemasan dan depresi

Beberapa anak dapat bertahan ketika mendapat tekanan, tetapi ada juga yang tidak mampu. Jika ini yang terjadi, anak akan mengalami kecemasan atau bahkan depresi. Hal ini dikarenakan pemaksaan dari orang tua membuat anak merasa dirinya tidak pernah cukup baik, atau karena anak tidak bisa bebas untuk mengekspresikan diri dan mengutarakan keinginannya. (MHW)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here