Akibat Penyakit Seksual Pada Kehamilan

SehatFresh.com – Penyakit Menular Seksual atau PMS sekarang juga dikenal dengan nama lain yakni Infeksi Menular Seksual atau IMS. Penyakit ini merupakan penyakit yang terjadi akibat seks bebas atau seks yang dilakukan dengan cara tidak aman. Penyakit ini bisa menular melalui darah, sperma, atau cairan tubuh lainnya. Sayangnya, infeksi penyakit ini juga bisa menular dari seorang ibu yang sedang hamil kepada bayi yang ada di dalam kandungannya.

Di negara-negara berkembang, IMS dan komplikasi mereka di peringkat lima teratas kategori penyakit yang dewasa mencari perawatan kesehatan. Infeksi dengan IMS dapat menyebabkan gejala akut, infeksi kronis, dan konsekuensi tertunda serius seperti infertilitas, kehamilan ektopik, kanker leher rahim, kematian mendadak bayi dan orang dewasa.

Sangat banyak jenis penyakit menular seksual yang bisa terjadi akibat seks bebas. Sebut saja HIV. HIV atau human immunodeficiency virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Virus ini dapat tertular melalui hubungan seks yang tidak aman, berbagi alat suntik seperti jarum suntik dari ibu kepada bayinya, maupun melalui transfusi darah. Biasanya orang yang tejangkit HIV disebut Odha.

Sistem kekebalan tubuh akan melemah dan tidak mampu melawan infeksi maupun penyakit akibat virus ini. Hingga kini, belum ada obat untuk sepenuhnya melenyapkan HIV dari tubuh. Penangangan dan pengobatan umumnya dilakukan untuk memperpanjang usia dan meredakan gejala yang muncul akibat HIV.

HIV tidak memiliki gejala yang jelas. Gejala awal yang terjadi adalah gejala flu ringan disertai demam, sakit tenggorokan, hingga ruam. Seiring virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, tubuh penderita akan makin rentan terhadap berbagai infeksi.

Selain HIV, ada pula penyakit sifilis atau raja singa. Penyakit yang satu ini adalah penyakit seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini memiliki gejala awal munculnya lesi atau luka pada alat kelamin atau pada mulut. Luka ini mungkin tidak terasa sakit, tapi sangat mudah untuk menularkan infeksi. Luka atau lesi ini akan bertahan antara 1-2.5 bulan.

Jika sifilis tidak ditangani, infeksi ini akan berlanjut ke tahap yang berikutnya. Pada tahap berikutnya, ruam akan berlanjut dan gejala yang mirip seperti gejala flu, yakni demam, nyeri pada persendian, dan pusing atau sakit kepala. Kerontokan rambut hingga pitak juga bisa dialami penderita. Jika dibiarkan, sifilis bisa menyebabkan kelumpuhan, kebutaan, demensia, bahkan kematian.

Antibiotik seperti suntikan penisilin digunakan untuk menangani dan mengobati sifilis. Jika sifilis diobati dengan benar, tahapan sifilis yang lebih parah bisa dicegah. Hindari hubungan seksual sebelum memastikan infeksi sifilis benar-benar hilang.

Infeksi menular seksual yang tidak diobati berhubungan dengan infeksi kongenital dan perinatal pada neonatus, terutama di daerah di mana tingkat infeksi tetap tinggi. Pada wanita hamil dengan sifilis awal yang tidak diobati, 25% dari kehamilan menyebabkan bayi lahir mati dan 14%  kematian neonatal, sebuah kematian perinatal secara keseluruhan sekitar 40%. prevalensi sifilis pada ibu hamil di Afrika, misalnya, berkisar antara 4%  sampai 15%. Sampai dengan 35% dari kehamilan di antara perempuan dengan hasil infeksi gonokokal diobati diaborsi spontan dan kelahiran prematur, 10% kematian perinatal. Dengan tidak adanya profilaksis, 30% sampai 50% dari bayi yang lahir dari ibu dengan gonore tidak diobati, 30% dari bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi klamidia yang tidak diobati akan mengembangkan infeksi mata serius (Oftalmia neonatorum) yang dapat menyebabkan kebutaan jika tidak diobati dini. Diperkirakan, di seluruh dunia, antara 1000 dan 4000 bayi yang baru lahir menjadi buta setiap tahun karena kondisi ini.

Sumber gambar : panduanhidupsehat.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY