Akibat Testosteron Rendah

Hormon testosteron adalah hormon seks pada pria yang mana hormon ini berfungsi untuk membangun dan menjaga fungsi seksual dan anabolik tubuh. Pembentukan testosteron dimulai dari otak oleh kelenjar hipotalamus dan hipofisis. Kekurangan kadar testosteron merupakan salah satu penyebab disfungsi seksual timbulnya masalah seksual pada pria seperti libido rendah dan disfungsi ereksi.

Ada beberapa hal yang menyebabkan produksi hormon menjadi terganggu sehingga memengaruhi sel, organ, maupun sistemik tubuh. Secara alami, kadar hormon testosteron akan mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Kadar testosterone normal berbeda-beda, berdasarkan usia dan tingkat kedewasaan. Umumnya, kadar normal testosterone dalam darah berkisar antara 300-1000 nanograms /desiliter.

Salah satu kekhawatiran terbesar yang dihadapi oleh pria akibat terjadinya penurunan kadar testosteron adalah pengaruhnya terhadap gairah dan performa seksual. Sebuah survey melaporkan bahwa sekitar 70 persen pria yang memiliki kadar testosteron rendah mengalami disfungsi ereksi, dan 63 persen lainnya memiliki libido yang rendah.

Rendahnya kadar testosteron tidak hanya berhubungan dengan masalah seksual, tetapi juga telah dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan lain. Sebuah penelitian yang dilakukan tahun 2006 pada 2100 pria yang berusia di atas 45 tahun, menunjukkan bahwa penurunan kadar testosteron dapat meningkatkan risiko obesitas 2,4 kali lebih besar, meningkatkan risiko diabetes 2,1 kali lebih tinggi, dan risiko tekanan darah tinggi sebesar 1,8 kali.
Kondisi medis yang dapat terjadi akibat rendahnya kadar testosteron, diantaranya:

  • Diabetes
    Hormon testosteron membantu jaringan tubuh untuk menyerap gula darah lebih banyak sebagai respon terhadap insulin. Pria dengan testosteron yang rendah seringkali mengalami resistensi insulin, sehingga mereka perlu untuk menghasilkan lebih banyak insulin untuk menjaga gula darah normal mereka agar terhindar dari risiko diabetes.
  • Obesitas
    Pria dengan obesitas cenderung memiliki kadar testosteron yang rendah. Hal ini dikarenakan sel lemak memetabolisme testosteron menuju estrogen, sehingga menurunkan kadar testosteron secara keseluruhan. Di samping itu, obesitas juga berdampak pada berkurangnya tingkat hormon seks yang mengikat protein pembawa testosteron dalam darah (globulin).
  • Sindrom metabolik
    Sindrom metabolik adalah kondisi yang mencakup adanya tingkat kolesterol yang tidak normal, tekanan darah tinggi, obesitas pada pinggang, dan tingkat gula darah tinggi. Sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Penelitian menunjukkan bahwa pria dengan testosteron rendah lebih tinggi risikonya terhadap pengembangan sindrom metabolik.
  • Penyakit jantung
    Pria dengan diabetes yang disertai testosteron rendah lebih berisiko mengalami atherosclerosis, atau pengerasan pembuluh darah. Dalam hal ini, testosteron diperlukan untuk dikonversi menjadi estrogen dan melindungi arteri dari kerusakan. Meski bukan menjadi penyebab utama penyakit jantung, namun kadar testosteron yang cukup dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung.
  • Depresi
    Riset yang dilakukan pada pria dengan kadar testosteron rendah menunjukkan bahwa mereka memiliki kecenderungan mengalami depresi sebesar 2 kali lipat dibandingkan dengan pria yang memiliki kadar testosteron normal.

*pic www.deherba.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY