Self-Injury (Menyakiti dan Melukai Diri Sendiri) Dilakukan untuk Mendapatkan Perhatian

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com  Seperti pada ulasan sebelumnya, Self Injury merupakan kelainan psikologis dan kasus ini dapat dikatakan menjadi suatu fenomena gunung es di kalangan remaja dan dewasa. Pada salah satu penelitian dikatakan bahwa gangguan psikologis ini terjadi lebih banyak pada kalangan mahasiswa dengan kisaran 17-35 persen, remaja sebanyak 15 persen dan dewasa sebanyak 4 persen.

Keberadaan self Injury sendiri jarang diketahui oleh masyarakat karena pada kasus ini mereka lebih cenderung menyembunyikan hasil pelampiasannya seperti bekas luka di bagian tubuh, bekas sayatan ataupun hasil pembakaran terhadap bagian tubuh agar tidak diketahui oleh orang lain.

Pada beberapa kasus self injury memang menjadi salah satu bentuk pelampiasan emosi yang tidak tersampaikan, perasaan putus asa namun tidak ingin bunuh diri, cara untuk mengatasi perasaan marah agar berkurang, hingga merasa terpisah antara dunia dan tubuhnya. Namun pada beberapa kasus self injury menjadi cara remaja ataupun kaum dewasa untuk mendapatkan perhatian.

Alasan mendapatkan perhatian tersebut berdasarkan pada perasaan kosong yang kronis, kesepian mendalam, sulit dipahami oleh orang lain, tidak mampu bersosialisasi dan biasanya karena kurangnya perhatian dari keluarga, teman, guru atau bahkan tetangga. Dapat disamakan seperti keadaan dimana remaja dengan kedua orangtua sibuk bekerja tidak memiliki waktu dirumah, tidak memiliki saudara sehingga mereka terpaksa menjalani hari-hari sendiri. Tidak ada waktu berkumpul, mereka tidak dapat menceritakan masalah dan tidak mendapatkan cara penyelesaian atau solusi. Sehingga mereka menggunakan cara ekstrim agar bisa mendapatkan perhatian yang diinginkan.

Selain itu kurangnya peran keluarga dalam memberikan contoh perilaku dalam mengekspresikan emosi, pola asuh orangtua yang keras dan minimnya komunikasi yang baik antar keluarga atau saudara juga dapat menjadi faktor pemicu tindakan self injury sebagai bentuk mencari perhatian.

Pada dasarnya penyakit menyakiti diri sendiri bukan penyakit mental namun adanya kelainan psikologis karena salah dalam melakukan pola pikir sehingga juga mempengaruhi mental para penderita self injury.

Penanganan kelainan psikologis ini sebenarnya tidak perlu dimasukkan kedalam panti rehabilitasi. Mahasiswa, remaja atau dewasa dengan alasan menyakiti diri sendiri untuk mendapatkan perhatian dapat dibantu mengurangi kegiatan ini agar tidak memiliki kecenderungan untuk mengulanginya dan mengarah menjadi kebiasaan sehingga menambah kerusakan fisik yang ditimbulkan.

Dapat ditambah juga dengan memberikan support, kepedulian dan dukungan penuh dari lingkungan rumah ataupun sekolah, keluarga dan teman secara terus menerus sehingga dapat memotivasi dan memperbaiki perasaan kesepian, kekosongan, kekecewaan dan perasaan sedih yang dialami sebelumnya. (MLD)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here