Amankah Ibu Hamil Melakukan Operasi Usus Buntu?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Peradangan usus buntu atau apendiks dapat terjadi pada semua orang, termasuk ibu hamil. Peradangan usus buntu disebabkan  oleh infeksi bakteri di usus buntu, sehingga usus mengalami peradangan. Jika tidak mendapatkan penanganan, usus buntu akan berisiko mengalami ruptur atau pecah.

Usus buntu biasanya ditandai dengan rasa sakit dibagian perut bawah. Usus buntu ini sendiri bagian dari usus besar yang terletak di perut bagian kanan bawah. Oleh karena itu, bila seseorang mengeluh merasakan sakit di perut bagian kanan bawah bisa dicurigai sebagai penyakit usus buntu.

Rasa sakit yang biasanya ditimbulkan dari penyakit ini bersifat hilang timbul dan seringkali terasa semakin memberat dan kian memburuk jika tidak mendapat perawatan medis. Termasuk usus buntu pada saat hamil, bisa menimbulkan risiko terjadinya keguguran dan kelahiran prematur. Terlebih jika dialami oleh ibu hamil yang sudah trimester ketiga.

Pada usia kandungan trimester pertama dan kedua pemeriksaan dengan ultrasonografi atau USG dapat membantu memastikan peradangan pada usus buntu. Sedangkan pada usia kandungan trimester ketiga, jika gejala yang dialami sangat tidak khas dokter mungkin akan menyarankan untuk CT scan.

Operasi usus buntu termasuk salah satu operasi yang dapat dilakukan selama kehamilan. Dokter akan menyarankan operasi usus buntu jika radang pada usus berisiko untuk pecah, atau menyebabkan kelahiran prematur dan kematian janin. namun, operasi usus buntu pada ibu hamil perlu melibatkan dokter kandungan dan spesialis anastesi agar rahim tidak terjadi kontraksi saat operasi berlangsung.

Rata-rata sekitar 80% wanita yyang menjalankan operasi usus buntu akan mengalami kontraksi prematur. Tapi tenang, hal ini tidak sampai menyebabkan persalinan prematur sehingga ibu hamil bisa melanutkan kehamilannya dan melahirkan bayi sesuai usia kandungannya.

Bila usus buntu terjadi pada kehamilan trimester pertama dan kedua, dokter biasanya akan melakukan operasi laparoskopi (operasi dengan sayatan sebesar lubang kunci). Sedangkan jika usus buntu terjadi pada kehamilan di trimester ketiga, dokter biasanya akan melakukan operasi dengan sayatan yang lebih besar. Operasi usus buntu yang dilakukan pada usia di atas 24 minggu juga memerlukan pengawasan ketat pada janin.

Jadi, melakukan operasi usus buntu saat hamil tidak membahayakan janin ataupun ibu hamil, dengan catatan anda tanggap dengan kondisinya. Pemulihan setelah operasi usus buntu pada ibu hamil umumnya memerlukan waktu yang lebih lama. Ibu hamil perlu dirawat dirumah sakit beberapa waktu tergantung kondisi ibu dan janin.

Setelah pulang dari rumah sakit, ibu hamil tetap perlu istirahat setidaknya satu minggu. Ibu hamil tetap boleh melakukan aktivitas ringan dan tetap bergerak selama masa pemulihan. Selain itu, imbangi dengan mengonsumsi makanan yang bergizi dan melakukan pemeriksaan kembali sesuai jadwalnya.


Warning: A non-numeric value encountered in /home3/sehatfre/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here