Apa Bahaya Aborsi di Usia Remaja?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Tidak dipungkiri jika praktik aborsi masih kerap dilakukan, tidak terkecuali oleh para remaja. Aborsi merupakan pengeluaran janin dari uterus secara sengaja atau spontan, sebelum kehamilan berusia 22 minggu. Hanya saja jumlah minggu kehamilan yang spesifik, dapat bervariasi di setiap negara. Hal tersebut tergantung pada aturan perundang-undangan setempat.

Di Indonesia praktik aborsi dilarang oleh UU, KUHP, fatwa MUI, dan majelis tarjih Muhammadiyah. Hanya saja aborsi di Indonesia masih tinggi, yang sebagian besar dilakukan para remaja. Kurangnya pendidikan tentang sex, pengawasan orangtua hingga pergaulan bebas menjadi faktor terpenting  terjadinya hamil di luar nikah yang berujung aborsi.

Aborsi memang identik dengan hal negatif. Namun jika ditinjau dari segi medis, tidak semua tindakan aborsi dipandang negatif. Hail itu  dikarenakan pada suatu kasus, bisa saja dokter justru menganjurkan aborsi demi kondisi ibu hamil. Ketika dokter menganjurkan aborsi bagi ibu hamil, perawat akan menjalankan prinsip dan asas etik keperawatan untuk membantu pasien.

Penyebab Tindakan Aborsi Pada Remaja

Tindakan aborsi dilakukan karena ada beberapa alasan. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini alasan dilakukannya aborsi:

  • Umur
  • Incest atau hubungan seks sedarah. Hal ini seperti tindak pemerkosaan  seorang ayah kepada anaknya.
  • Kehamilan yang tidak diinginkan (hamil di luar nikah).
  • Paritas ibu.
  • Adanya indikasi medis atau penyakit kronis.
  • Aktivitas seksual pada usia muda.
  • Kurangnya pemahaman tentang dampak aborsi.
  • Sudut pandang agama dan sosiokultural.
  • Tingkat pendidikan rendah.
  • Pengetahuan kesehatan reproduksi yang rendah.
  • Kesadaran masyarakat rendah tentang dampak negatif yang tidak aman dari aborsi.

Bahaya Aborsi Pada Remaja

Seperti yang diketahui jika praktik aborsi memiliki bahaya terhadap kesehatan atau keselamatan perempuan. Dirangkum dari berbagai sumber, ada dua bahaya kesehatan bagi perempuan yang melakukan aborsi:

  1. Resiko kesehatan dan keselamatan.

Dalam buku “Facts of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd, terdapat beberapa bahaya yang dihadapi perempuan ketika melakukan aborsi. Bahaya tersebut antara lain:

  • Kematian akibat pendarahan hebat.
  • Terjadi infeksi di sekitar kandungan.
  • Kerusakan leher rahim sehingga bisa menyebabkan anak berikutnya mengalami cacat.
  • Bisa menyebabkan kanker payudara, karena terjadi ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita.
  • Bisa menyebabkan kanker indung telur.
  • Bisa menyebabkan kanker leher rahim.
  • Bisa menyebabkan kanker hati.
  • Bisa menyebabkan kelainan pada placenta (ari-ari), sehingga menyebabkan anak berikutnya mengalami cacat atau pendarahan ketika menjalani kehamilan berikutnya.
  • Memiliki resiko mengalami kemandulan.
  • Bisa menyebabkan infeksi rongga panggul.
  • Bisa menyebabkan infeksi lapisan rahim.
  1. Resiko gangguan psikologis

Aborsi selain memiliki resiko kesehatan dan keselamatan, juga memiliki dampak negatif terkait mental seorang perempuan. Gejala tersebut termuat dalam “Psychological Reactions Reported After Abortion” di dalam penerbitan The Post-Abortion Review (1994). Lantas resiko mental apa saja yang bisa dialami?

  • Pelaku aborsi bisa kehilangan harga diri.
  • Pelaku aborsi seperti merasa diasing oleh masyarakat.
  • Pelaku aborsi bisa mengalami mimpi buruk mengenai bayi.
  • Pelaku aborsi bisa memiliki keinginan bunuh diri.
  • Pelaku aborsi bisa mulai mencoba mengkonsumsi obat-obat terlarang.

Pelaku aborsi mungkin tidak bisa lagi menikmati lagi hubungan seksual. (Apras).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY