Apa Sebabnya Setelah Makan Ubi Mudah Kentut?

0
1
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Ubi memiliki rasa yang enak. Ubi juga bisa disajikan dalam berbagai cara, direbus, digoreng, atau dijadikan berbagai produk olahan makanan lainnya. Namun, ada satu kekhawatiran orang kala memakan ubi, yakni mudah mengeluarkan ‘gas’ alias kentut.

Makan ubi jalar, seperti ubi ungu, ubi putih, dan ubi kuning, memang bisa memicu kentut atau flatulensi. Namun, kentut setelah mengonsumsi ubi tak dialami oleh setiap orang.

Kentut setelah makan ubi terjadi bukan tanpa sebab. Menurut pakar Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir. Purwiyatno MSc, sering kentut setelah makan ubi terjadi karena memang karakter pati dari ubi sulit untuk dicerna. Akibatnya, di dalam usus akan tumbuh bakteri yang memicu gas sehingga terjadi flatulensi (kentut).

“Hal ini memang termasuk pendapat umum. Sebetulnya, tidak selalu makan ubi itu menyebabkan kentut. Pertama, kondisi orang masing-masing berbeda. Dan, di Indonesia sendiri, ada juga beberapa varietas ubi yang jika dikonsumsi tidak menyebabkan masalah itu,” kata Prof. Pur dalam sebuah kesempatan.

 Pada orang yang sensitif, efek sering kentut bisa diminimalkan dengan proses pemasakan ubi, misalnya direbus, dikukus, bahkan digoreng. Sebab, dalam kondisi matang, pati ubi akan terglutenisasi sehingga lebih mudah dicerna.

Secara teori, lanjut Prof Pur, semakin lama dimasak, maka pati dalam ubi terglutenisasi. Namun, penurunan zat gizi tetap terjadi ketika ubi diolah. Jadi, disarankan untuk mengolah ubi dengan direbus atau dikukus karena pengurangan zat gizi yang terjadi sekitar 30%. Proporsinya berbeda ketika ubi digoreng atau dipanggang yang bisa mengalami penuruan zat gizi sampai 60%.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Guru Besar Pangan dan Gizi dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS. Ia menjelaskan, ubi jalar merupakan karbohidrat kompleks dan juga tinggi serat. Ubi tak mudah dicerna sehingga dalam usus terjadi fermentasi oleh bakteri yang memicu gas, dan terjadilah kentut.

“Menimbulkan gas karena adanya yang berfermentasi tadi. Tapi, itu bersifat sensitif terhadap orang per orang. Tidak bisa disamaratakan kalau habis makan ubi langsung kentut,” jelasnya.

Lalu, apakah makan ubi jalar juga menyebabkan aroma buangan gas menjadi lebih berbau? Menurut Ali tidak demikian. Jadi, konsumsi ubi jalar tak selalu memicu buang gas. Ubi jalar bahkan bermanfaat bagi kesehatan.

Ubi ungu misalnya, mengandung antioksidan, bernama antosianin untuk anti-inflamasi dan antikanker. Antosianin juga mendukung keseimbangan bakteri baik sehingga menyehatkan pencernaan dan pada akhirnya meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Di samping itu, tidak selamanya kentut itu menghasilkan bau tak sedap. Kentut yang berbau hanya berkisar 1%. Sisanya adalah kentut yang tanpa aroma dan hanya terdiri dari gas. (SBA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY