Apakah Ada Kaitan Antara Puasa dan Kesuburan?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Puasa bisa mempengaruhi kondisi tubuh para pelakunya. Tapi, apakah ini juga berarti mempengaruhi urusan kesehatan reproduksi? Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Harvard yang bekerja sama dengan Massachusetts General Hospital (MGH), ditemukan bahwa membatasi asupan kalori pada tikus betina dewasa dapat mencegah munculnya kelainan pada kehamilan.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan memantau dua kelompok tikus betina dewasa berusia tiga bulan sampai satu tahun. Usia tersebut adalah usia di mana kualitas sel telur dan kesuburan tikus sedang berkurang drastis. Salah satu kelompok diberi makan sebanyak-banyaknya sepanjang usia dewasa, sementara kelompok lainnya dibatasi asupan makanannya selama tujuh bulan dan baru diberi banyak makan menjelang penelitian berakhir.

Hasilnya, kelompok tikus yang diperbolehkan makan dengan bebas mengalami penurunan jumlah sel telur yang dihasilkan saat ovulasi. Sedangkan, sel telur dari kelompok tikus yang dibatasi asupan makanannya lebih mirip sel telur tikus betina dewasa yang sehat pada usia reproduksi yang prima.

Selain tikus, para peneliti juga mencobakan metode ini pada monyet betina. Kesimpulannya, saat monyet betina menjalani puasa, tubuhnya justru bakal memproduksi jumlah sel telur lebih banyak. Di samping itu, kadar gula dalam darah juga menurun.

Bagaimana dengan kualitas sperma? Puasa disinyalir punya manfaat pada kesuburan pria. Pada tahun 1986, Dr. Samir Abbas dan Dr. Abdullah Basalamah dari Fakultas Kedokteran Universitas King Abdul Aziz pernah melakukan riset terkait hal ini.

Ada 21 responden pria yang ikut serta. Delapan di antaranya pria sehat, 10 orang menderita kekurangan sperma, dan tiga lainnya tidak memiliki sperma.

Sampel darah dan sperma mereka diambil di bulan Sya’ban (sebulan sebelum Ramadhan), Ramadhan dan bulan Syawal. Pemeriksaan dilakukan terhadap hormon testosteron, lemotin, dan hormon perangsang kantung (FSH).

Riset membuktikan bahwa ada perubahan signifikan pada responden sehat selama dan setelah menjalani puasa. Performa hormon kejantanan atau testosteron mereka mengalami peningkatan.

“Volume sperma dan jumlah total sperma mereka bertambah selama bulan Ramadhan,” kata peneliti.

Tim juga melakukan pemeriksaan data statistik rumah sakit yang menyebut semakin banyak ibu hamil di bulan Syawal.

Pada penderita kekurangan sperma, peneliti mencatat ada pengaruh puasa pada pembentukan sperma. Pasalnya, jumlah hormon FSH mereka lebih sedikit selama Ramadhan.

“Puasa memiliki pengaruh bermanfaat pada pembentukan sperma, baik melalui perubahan hormon maupun pengaruh langsung pada kedua testis,” sambung peneliti tersebut. Selain itu, puasa menurunkan dorongan seksual, meski tidak mengurangi kemampuan dan performa seksual.

Intinya, puasa juga tidak akan memberikan dampak buruk terhadap kualitas sperma. Puasa justru dapat meningkatkan fungsi organ reproduksi. Kadar asam dan basa dalam tubuh pun dapat menjadi lebih seimbang saat berpuasa sehingga fungsi berbagai organ tubuh pun semakin meningkat. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here