Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Sebagian orang yang menjalankan ibadah puasa mengisi waktu istirahat siangnya dengan tidur. Hal ini wajar saja mengingat bila ia adalah pekerja kantoran, maka waktu yang biasanya untuk makan siang tidak akan terpakai. Namun, bagaimana bila saat tidur di siang hari, ia mimpi basah? Batalkah puasanya?

Menurut Ustad Aam Amirudin, mimpi basah itu merupakan kejadian saat kesadaran manusia sedang hilang. “Begini, sebenarnya mimpi basah itu tidak membatalkan puasa karena itu terjadi saat kesadaran kita hilang,” katanya. Beberapa kegiatan yang dilakukan tanpa kesadaran kita, kata dia, tidak lantas membatalkan puasa. “Orang yang berpuasa itu, ketika dia kesadarannya hilang, contoh dia lupa makan, minum, maka puasanya tidak batal,” jelasnya.

Orang yang tertidur itu termasuk orang yang tidak kuasa (menahannya), seperti seekor nyamuk yang terbang dan hinggap di mulutnya tanpa dikehendakinya. Untuk itu, bagi yang mengalami mimpi basah saat berpuasa sebaiknya meneruskan puasanya hingga maghrib tiba.

Islam itu, Ustad Aam Amirudin meneruskan, mudah. Jadi, Anda tidak perlu membatalkan puasa bila mengalami mimpi basah di siang hari. Teruskan puasa Anda sampai maghrib tiba dan mandi besar saja ketika akan melaksanakan salat.

Yang perlu diingat, salah satu pembatal puasa adalah berjima’ (persetubuhan) di siang Ramadhan dengan sengaja dan sadar, baik sampai keluar mani atau tidak. Dengan kata lain, terjadinya hubungan hingga bertemunya dua alat kelamin atau masuknya dzakar ke vagina. Maka, siapa yang melakukan hal di atas saat ia berpuasa, batalah puasanya dan ia wajib membayar kafarah, baik keluar mani atau tidak.

Pembatal lainnya yang masih berhubungan dengan syahwat adalah sengaja dan sadar mengeluarkan mani dengan sebab bercumbu, berpelukan, melihat gambar, menonton film porno, atau beronani (lihat Al-Mulakhosh al-Fiqhi: I/382).

Jika seseorang menumpahkan maninya dengan sengaja dan sadar bahwa dirinya sedang berpuasa, maka menurut jumhur ulama, puasanya batal dan ia wajib meng-qadha.

Dalil yang dijadikan pegangan jumhur adalah hadits qudsi tentang orang yang sedang berpuasa. Hadits itu berbunyi, “Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku. Puasa adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Al-Bukhari)

Sengaja mengeluarkan mani dalam kondisi sadar dengan sebab-sebab pilihanya di atas adalah bagian dari syahwat. Maka, perbuatan itu harus ditinggalkan saat seseorang berpuasa.

Adapun orang yang tidur di waktu siang lalu bermimpi basah sehingga keluar mani, puasanya tidak batal dan tidak mempengaruhi kesempurnaan puasa. Puasanya tetap sah karena hal itu terjadi bukan karena keinginan dan pilihannya. Tetapi, ia wajib mandi janabat. Utamanya mandi itu segera ia kerjakan dan jangan ditunda. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here