Asam Lemak Jenuh dan Tak Jenuh, Apa Bedanya?

0
5
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Rangkaian kata yang cukup sering terdengar, bukan? Namun, tahukah Anda perbedaannya?

Sebuah lemak dibuat dari dua jenis molekul kecil, yaitu monoglyceride dan asam lemak. Asam lemak jenuh (saturated fatty acid) merupakan lemak yang semua asam lemaknya memiliki satu ikatan.

Sementara itu, asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid) merupakan asam lemak yang setidaknya memiliki satu ikatan ganda dalam rantai asam lemaknya. Jika memiliki satu ikatan ganda, maka disebut dengan monounsaturated. Bila lebih dari satu ikatan ganda, maka disebut dengan polyunsaturated. Asam lemak tak jenuh diyakini dapat mengurangi kadar kolesterol dan trigliserida darah. Lemak ini juga dikenal sebagai asam lemak esensial atau lemak baik.

Lemak sendiri dapat mengandung proporsi lemak jenuh dan tak jenuh yang berbeda. Sebagian besar lemak hewan merupakan asam lemak jenuh, sedangkan lemak tumbuhan dan ikan merupakan asam lemak tak jenuh.

Makanan yang mengandung asam lemak jenuh dapat ditemui pada beberapa produk hewani, seperti krim, keju, mentega, dan produk olahan susu lainnya. Selain itu, satu sumber lemak jenuh lainnya adalah minyak goreng. Minyak goreng yang telah dipakai (jelanta) dapat menjadi lemak jenuh, tergantung pada lamanya pemanasan, suhu, dan komposisi asam lemak itu sendiri.

Di sisi berbeda, asam lemak tak jenuh dalam konsentrasi tinggi, misalnya, terdapat pada avokad, minyak bunga matahari, minyak kedelai, minyak kacang dan lain-lain. Yang perlu diperhatikan, sebuah makanan bisa mengandung asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh dengan konsentrasi tertentu.

Untuk sajian siap saji, kandungan asam lemak jenuh yang tinggi bisa berupa pizza, biskuit, keripik, dan sejumlah fast food. Sementara itu, makanan yang mengandung lemak tak jenuh antara lain kacang-kacangan, sayur, dan seafood (tuna, salmon serta ikan-ikan lain yang kaya omega-3).

American Heart Association merekomendasikan agar makanan yang mengandung lemak jenuh setiap harinya kurang dari 7% dari kalori. Pasalnya, lemak jenuh cenderung meningkatkan kadar kolesterol dan trigliserida, yang merupakan komponen-komponen lemak di dalam darah yang berbahaya bagi kesehatan. Namun, pada penelitian terbaru, lemak jenuh disebutkan tidak seburuk yang sering dipikirkan orang-orang, namun rekomendasinya tetap harus berhati-hati dalam hal konsumsi.

Untuk lemak tak jenuh, American Heart Association merekomendasikan untuk lebih banyak mengonsumsi lemak monounsaturated.

Baik asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh sama-sama kaya akan energi. Jadi, konsumsinya harus diperhatikan agar tidak berlebihan. Hal tersebut karena lemak dapat menambahkan kalori pada makanan dan berat badan jika dikonsumsi terlalu banyak, baik itu lemak jenuh ataupun tak jenuh. (SBA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY