Bagaimana caranya bisa hamil ?

Infertilitas atau dikenal juga sebagai sulit hamil adalah suatu kondisi dimana pasangan yang telah berhubungan intim secara rutin 2-3 kali perminggu tanpa kontrasepsi namun belum kunjung hamil. Pasangan sering kali merasa tidak sabar agar bisa hamil. Padahal 90 % kehamilan terjadi dalam 12 bulan menikah.

Pasangan dengan usia istri kurang dari 35 tahun maka pemeriksaan ke dokter kandungan dapat dilakukan setelah menunggu 12 bulan setelah menginginkan anak. Jika berusia antara 35-40 tahun maka setelah 6 bulan menikan bisa segera periksa dokter, namun jika wanita telat menikah – pada usia 40 tahun atau lebih- maka pemeriksaan ke dokter dapat dilakukan sesegera mungkin. Pemeriksaan dokter kandungan dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan masalah kesuburan baik dari faktor wanita, laki-laki atau keduanya.

periksa_infertilitas

Kapan dilakukan pemeriksaan dokter ?

Pemeriksaan program hamil dapat dilakukan pada dokter kandungan yang terdekat. Sebaiknya datang berdua pasangan dan dilakukan pada saat istri mendapatkan haid hari ke 2-3.

Pemeriksaan apa yang diperlukan agar bisa hamil ?

  1. Pemeriksaan Riwayat pasien. Dokter akan menanyakan: riwayat pasien, riwayat penyakit, riwayat operasi, riwayat perkawinan, pola hubungan intim, riwayat kehamilan (bila pernah), siklus haid, dan sebagainya.
  2. Pemeriksaan Fisik. Dokter melakukan pemeriksaan fisik secara umum (tekanan darah, berat badan, tinggi badan) dan pemeriksaan fisik ginekologis (kandungan). Dokter akan menilai organ genitalia eksterna (bagian luar) seperti vulva, vagina dan mulut rahim, dan pada saat bersamaan akan dilakukan pemeriksaan organ genitalia interna (bagian dalam) menilai kondisi rahim, indung telur dan mencari adanya tumor kandungan.
  3. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Dilakukan untuk melihat anatomi rahim, indung telur, saluran telur dan adanya massa (tumor) kandungan seperti kista, mioma, polip dan sebagainya. Pemeriksaan USG idealnya dilakukan menggunakan alat yang dimasukkan ke dalam vagina (transvaginal) atau jika tidak ada dapat menggunakan USG transabdominal (melalui dinding perut yang membutuhkan kondisi kandung kemih penuh guna memudahkan pemeriksaan). Pemeriksaan USG skrining kandungan dilakukan pada siklus mens ke 2. Nanti akan dilakukan kembali pada siklus mens ke 12 untuk melihat perkembangan sel telur dan ketebalan selaput lendir rahim (endometrium).
  4. Pemeriksaan Histerosalpingografi (HSG). Tindakan ini dilakukan di rumah sakit atau laboratorium yang memliki fasilitas pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan Sinar X dan diberikan zat kontras melalui kateter yang dimasukkan ke dalam rahim. Tujuannya adalah untuk menilai rongga rahim dan saluran telur (tuba falopii).Pemeriksaan dilakukan pada hari ke 9-11 siklus menstruasi. Pasien sebaiknya tidak melakukan hubungan intim sebelum tindakan.
  5. Pemeriksaan Histerosonografi (SIS). Pemeriksaan ini merupakan alternatif bagi pemeriksaan HSG apabila terdapat reaksi alergi terhadap zat kontras, tidak adanya peralatan rontgen atau pada pasien dengan riwayat hamil dan melahirkan sebelumnya (infertilitas sekunder). Tindakan SIS mirip dengan Hidrotubasi (secara awam sering disebut sebagai “ditiup”). Pemeriksaan dilakukan pada siklus haid ke 9-11.
  6. Pemeriksaan Laboratorium, dalam kasus infertilitas penting dilakukan apabila ada gangguan menstruasi, adanya masalah pada kehamilan sebelumnya atau diduga ada penyakit fisik tertentu. Untuk masalah gangguan haid dilakukan pemeriksaan darah untuk menilai kadar hormon reproduksi yaitu hormon FSH, LH, Estradiol, dan Prolaktin pada hari ke 2-3 siklus haid dan hormon progesteron pada hari ke-21 siklus menstruasi. Bila terdapat riwayat keguguran berulang maka perlu pemeriksaan mendeteksi adanya Sindroma Antifosfolipid (APS) dengan memeriksa Antibodi Anticardiolipin (ACA) dan Lupus Antikoagulan. Jika dicurigai kelainan Sindroma ovarium polikistik (PCOs) maka akan ditambahkan pemeriksaan hormon insulin puasa, glukosa puasa dan pemeriksaan kearah hiperandrogen.
  7. Pemeriksaan Analisis Sperma. Pemeriksaan dilakukan suami setelah menghindari sanggama selama 3-4 hari. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan di laboratorium dengan masturbasi. Pemeriksaan dengan melakukan sanggama boleh dilakukan jika dijumpai kesulitan untuk masturbasi.

 

Dr. Prima Progestian, SpOG, Cht

  • RS Muhammadiyah Taman Puring, Brawijaya Women Hospital, Klinik Permata Bintaro
  • Website: www.drprima.com
  • Twitter : @dokter_prima
  • Facebook: drprima

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here