Bagaimana Penanganan Pada Remaja Trauma Korban Bullying?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Bullying dianggap sebagai suatu tindakan yang cukup menyakiti remaja. Bentuk bullying antara lain seperti mengeluarkan kalimat kasar, hingga meminta (korban) melakukan tindakan sesuai keinginan pelaku. Lantas bagaimana penanganan pada remaja yang mengalami trauma korban bullying?

Pengertian bullying

Tidak ada definisi yang spesifik guna menjelaskan pengertian bullying. Namun dari rangkuman berbagai sumber dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan perbuatan yang melibatkan perilaku atau ucapan yang provokatif ditujukan kepada korban (anak atau remaja) dengan karakteristik tertentu.

Orangtua harus tahu tanda-tanda remaja telah di bully

Tidak semua remaja mau berterus terang dan melaporkan pada orangtua, ketika mengalami perlakuan yang kurang baik dari teman-temannya. Alhasil orangtua harus jeli melihat perilaku pada anak, apakah ada perubahan yang signifikan atau tidak.

Tanda-tanda seorang remaja menjadi korban bullying, sebenarnya bisa diamati. Beberapa contohnya antara lain remaja berubah menjadi pemurung, pakaian yang terlihat robek, remaja terlihat bimbang untuk pergi ke sekolah, berkurangnya nafsu makan, sering mimpi buruk, hingga mudah cemas.

Orangtua yang mendapati perubahan cukup signifikan pada anak, harus sesegera mungkin melakukan komunikasi. Ajak anak bicara secara terbuka, sehingga orangtua dapat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di sekolah atau lingkungan bermainnya. Orangtua setelah itu bisa mengambil tindakan yang tepat guna menyelesaikan situasi tersebut. Berikut penanganan korban bullying:

  1. Peran kepala sekolah dan guru

Bullying bila terjadi di lingkungan sekolah, maka perlu kerjasama dari berbagai pihak untuk mengatasinya. Kepala sekolah, wali kelas, dan guru harus bahu membahu untuk menangani kasus ini. Konselor di sekolah memiliki peran sebagai mediator, sekaligus memberi penanganan psikologis terhadap korban. Di lain pihak kepala sekolah memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi setegas-tegasnya kepada pelaku, agar tidak melakukan perbuatannya kembali.

  1. Peran orangtua

Orangtua harus mengetahui karakter anak dan kondisi di sekitar lingkungan pergaulannya. Dalam hal ini orangtua perlu memahami anak terkait minat dan dinamika psikologisnya. Komunikasi yang intensif perlu dilakukan, tanpa dibatasi tempat dan waktu. Orangtua harus siap menjadi pendengar terkait persoalan anak di sekolah ataupun di lingkungan pergaulan.

Jika bullying terjadi di rumah, orangtua harus bersikap adil dalam menyelesaikan perselisihan antara adik dengan kakak. Orangtua juga harus menanamkan kasih sayang dan keharmonisan di dalam keluarga. Orangtua juga harus membangkitkan rasa percaya diri pada anak, termasuk memberikan penghargaan atas perilakunya yang positif.

  1. Peran teman sebaya

Remaja apabila telah terbukti menjadi korban bullying, maka harus mendapatkan dukungan dan semangat untuk mengembalikan kondisi psikologisnya. Salah satu pihak yang juga harus berperan dalam mengembalikan kondisi psikologis tersebut adalah teman sebaya. Kehadiran teman sebaya sangat membantu remaja yang mengalami trauma, untuk melupakan pengalaman buruk. (APY)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here