Bahaya Ibu Hamil Kelelahan

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kebanyakan wanita cenderung lebih lelah dari biasanya ketika sedang hamil. Kelelahan dalam kehamilan memang sulit dihindari, terutama di trimester pertama dan terakhir kehamilan. Pada saat tersebut, tubuh memproduksi hormon baru dan membuat banyak perubahan untuk mengakomodasi kebutuhan tumbuh kembang janin. Hal ini membuat tubuh bekerja sangat keras sehingga menguras banyak energi dan pada akhirnya menyebabkan tubuh ibu hamil mudah lelah.

Selama awal kehamilan, tubuh memproduksi lebih banyak darah untuk membawa nutrisi bagi janin yang sedang tumbuh. Akibatnya, kadar gula darah dan tekanan darah akan lebih rendah. Peningkatan kadar hornon membuat ibu hamil mengalami morning sickness. Mual dan muntah selama kehamilan tentunya membuat banyak nutrisi dan cairan tubuh yang turut terbuang sehingga tubuh cenderung terasa lesu, lemas, dan tidak bertenaga. Selain itu, emosi yang tidak stabil saat hamil sedikit banyaknya juga berkontribusi menurunkan tingkat energi.

Selama trimester kedua, energi akan meningkat seiring dengan morning sickness yang mereda. Meskipun kerja hormon masih belum cukup stabil, tubuh sudah beradaptasi sehingga kepekaan ibu hamil terhadap berbagai hal tidak akan separah sebelumnya.. Selain itu, emosi ibu hamil juga sudah mulai stabil. Oleh karenanya, banyak ibu hamil memanfaatkan trimester ini untuk melakukan banyak hal, seperti babymoon.

Akan tetapi, di trimester akhir kehamilan, ibu hamil akan mulai merasa kelelahan lagi. Kondisi perut yang semakin membesar dan frekuensi buang air besar yang lebih sering akibat perubahan kehamilan, dapat menyebabkan kesulitan tidur pada ibu hamil. Ritme tidur yang tidak teratur bisa memengaruhi tumbuh kembang janin dalam kandungan.

Kelelahan dalam kehamilan tidak dapat sepenuhnya dicegah. Namun, ibu hamil bisa meminimalisirnya dengan banyak istirahat, mengurangi aktivitas berat, mengonsumsi makanan bernutrisi, cukup minum, dan rutin melakukan olahraga ringan. Bila tidak diantisipasi, kelelahan (lelah fisik ataupun mental) bisa menimbulkan dampak serius bagi kehamilan.

Selain akibat perubahan fisiologis kehamilan, lelah fisik dapat berasal dari rutinitas harian seperti pekerjaan kantor, sedangkan lelah mental dapat bersumber dari konflik sehari-hari. Dalam beberapa kasus, kelelahan mungkin disebabkan atau diperparah oleh faktor gaya hidup lainnya. Misalnya, jika ini bukan kehamilan pertama, ibu hamil mungkin merasakan kelelahan berkelanjutan karena harus merawat anak yang lain. Apa pun yang menjadi penyebabnya, kelalahan dapat memicu kontraksi. Secara alamiah, kontraksi mulai dirasakan ibu hamil pada trimester ketiga sebelum kehamilan cukup bulan, Kondisi ini disebut Braxton Hicks atau kontraksi palsu, dan tidak perlu dikhawatirkan karena frekuensinya hanya sesekali.

Namun, bila terjadi kontraksi berlebihan akibat kelelahan pada trimester pertama, konsekuensi terburuknya adalah keguguran. Sementara bila terjadi pada trimester kedua atau ketiga, bayi menjadi lebih berisiko lahir prematur. Kontraksi dikatakan berlebihan jika frekuensinya sering dengan jarak waktu yang dekat. Bila dibiarkan, hal ini dapat mengakibatkan keluarnya lendir darah atau flek akibat pembukaan leher rahim. Akibatnya, ketuban bisa pecah sebelum waktunya atau terjadi kelahiran prematur.

Ambang kelelahan pada setiap ibu hamil tidak selalu sama, dan efek kontraksi pada setiap ibu hamil juga berbeda. Oleh karenanya, ibu hamil harus mengetahui dan memahami kemampuan fisik dan ambang kelelahannya sampai di mana. Bila mengabaikan sinyal lelah tubuh, ibu hamil berisiko jatuh akibat pingsan. Hal ini dapat mengakibatkan trauma pada kandungan yang dapat menimbulkan cedera pada ibu ataupun janin.

1 COMMENT

  1. makasih infonya bunda,

    pada trimester pertama merupakan masa rawan untuk ibu hamil, banyak temen saya mengalami keguguran, pendarahan,flek saat trimester poertama, sedikit banyak sumbernya dari kecapekan itu

LEAVE A REPLY