Bahaya Kebiasaan Selfie pada Kesehatan Mental Remaja

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Pada tahun 2014 lalu, American Psychiatric Association menetapkan istilah selfitis untuk mengacu pada kelainan mental berupa kegemaran mengambil dan posting selfie secara berlebihan. Kabar tersebut ternyata cuma hoax belaka.

Namun, sekelompok peneliti dari Notthingham Trent University dan Thiagarajar School of Management di India rupanya penasaran. Mereka  ingin mengetahui apakah fenomena ini benar-benar ada? Sebuah studi pun dilakukan dengan melibatkan responden 225 mahasiswa dari kedua kampus. Hasilnya? Tim peneliti mengklaim bahwa kelainan mental selfitis ternyata memang nyata dan bisa dikategorikan.

Perkembangan teknologi memang bak pisau bermata dua. Di satu sisi membawa hal-hal positif bagi kehidupan manusia. Tapi, di sisi lain bisa berdampak buruk.

Nah, perkembangan teknologi terkini memungkinkan penggunanya makin leluasa berinteraksi dengan pengguna lainnya, misalnya melalui media sosial atau platform chat. Tidak sedikit pula medium komunikasi tersebut memuat dokumentasi berupa foto maupun video. Istilah selfie pun makin merebak.

Sayangnya, kebiasaan selfie juga bisa berdampak negatif, khususnya remaja yang termasuk generasi milenial. Dampak-dampak buruk tersebut antara lain:

  • Citra diri yang negatif

Dilansir lama Healthline, sebuah studi yang diterbitkan pada The Journal of Early Adolescence menunjukkan bahwa remaja yang mengunggah banyak selfie cenderung memiliki kesadaran yang tinggi dengan penampilan mereka sendiri. Namun, ini juga sejalan dengan meningkatkan citra negatif pada bentuk tubuh tertentu. Selain itu, laporan berita dari Common Sense tahun 2015 juga menemukan bahwa gadis remaja yang terlalu sering selfie cenderung mudah cemas dan merasa khawatir.

  • Terobsesi dapat likes hingga tidak berpikir panjang

Perkembangan otak remaja belum sepenuhnya sempurna. Mereka belum bisa membuat keputusan dengan baik. Ini bisa menjerumuskan mereka dalam pilihan yang salah. Feedback yang tidak diharapkan dari foto yang diunggah bukan tidak mungkin membuat remaja mencari cara untuk menarik perhatian, misalnya mengunggah foto atau kata-kata yang mengundang kontroversi. Walaupun akan mendapatkan perhatian, munculnya komentar-komentar yang negatif bisa membuat remaja jadi tertekan pada akhirnya.

Selfie yang sudah masuk pada tahap gangguan adalah tatkala perilaku tersebut telah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, misalnya pendidikan atau pekerjaan terganggu. Parahnya, pelaku mulai mengabaikan kebutuhan primer bagi dirinya sendiri, seperti tidak lagi nafsu makan.

Namun, dalam ilmu psikologi pun ada takaran untuk terjadinya gangguan kejiwaan. Dengan kata lain, tidak bisa disebut sembarangan. Takaran tersebut melewati batas normal sampai mengganggu fungsi sehari-hari dan membuat orang tersebut mengalami distres.

Maka, untuk mengontrol kebiasaan selfie anak, tentu perlu peran orangtua untuk mengawasi penggunaan media sosial. Orangtua perlu memberi pemahaman pada anak untuk menggunakan media sosial dengan bijak dan positif.

Beri selalu dukungan dan nasihat saat remaja merasa dirinya tidak pantas, tidak cantik, atau tidak pintar. Tentunya, batasi juga penggunaan ponsel saat anak menghabiskan waktu bersama keluarga dan sebelum jam tidurnya. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here