Bahaya Kelainan Fimosis pada Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Fimosis adalah penyempitan pada prepusium. Kelainan ini juga menyebabkan bayi/anak sukar berkemih. Kadang-kadang begitu sukar sehingga kulit prepusium menggelembung seperti balon. Bayi/anak sering menangis keras sebelum urine keluar.

Baik bawaan sejak lahir (kongenital) maupun didapat, merupakan kondisi dimana kulit yang melingkupi kepala penis (glans penis) tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis. Kulit yang melingkupi kepala penis tersebut juga dikenal dengan istilah kulup, prepuce, preputium, atau foreskin. Preputium terdiri dari dua lapis, bagian dalam dan luar, sehingga dapat ditarik ke depan dan belakang pada batang penis. Pada fimosis, lapis bagian dalam preputium melekat pada glans penis. Kadangkala perlekatan cukup luas sehingga hanya bagian lubang untuk berkemih (meatus urethra externus) yang terbuka.

Gejala tidak jelas. Umumnya, fimosis tidak dapat langsung diketahui karena gejala yang timbul hampir sama dengan penyakit anak lainnya. Yang sering terjadi, fimosis pertama kali diketahui secara tidak sengaja ketika anak mengalami demam tanpa disertai gangguan saluran pernapasan seperti batuk dan pilek. Jika demam muncul lagi dalam jangka waktu yang tidak lama, biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan uji laboratorium pada darah anak. Dari hasil uji laboratorium, jika kandungan leukositnya berada di atas angka normal 4 x 109 hingga 11 x 109 per liter darah, maka tingkat infeksi pada anak terbilang tinggi. Hal tersebut umumnya disebabkan oleh adanya infeksi pada ujung penis, yang disebabkan oleh fimosis.

Tanda dan gejala fimosis diantaranya :

  • Penis membesar dan menggelembung akibat tumpukan urin
  • Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat mulai buang air kecil yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal tersebut disebabkan oleh karena urin yang keluar terlebih dahulu tertahan dalam ruangan yang dibatasi oleh kulit pada ujung penis sebelum keluar melalui muaranya yang sempit.
  • Biasanya bayi menangis dan mengejan saat buang air kecil karena timbul rasa sakit.
  • Kulit penis tak bisa ditarik kearah pangkal ketika akan dibersihkan
  • Air seni keluar tidak lancar. Kadang-kadang menetes dan kadang-kadang memancar dengan arah yang tidak dapat diduga
  • Demam

Ada tiga Cara untuk mengatasi fimosis, yaitu dengan disunat (khitan), obat dan peregangan. Banyak dokter yang menyarankan dilakukan khitan untuk menghilangkan masalah fimosis secara permanen. Rekomendasi ini diberikan terutama bila fimosis menimbulkan kesulitan buang air kecil atau peradangan di kepala penis (balanitis). Kemudian, terapi obat dapat diberikan dengan salep yang meningkatkan elastisitas kulup. Pemberian salep ini harus dilakukan secara teratur dalam jangka waktu tertentu agar efektif. Selain itu dilakukan peregangan. Terapi peregangan dilakukan secara bentahap pada preputium, yang dilakukan setelah mandi air hangat selama lima sampai sepuluh menit setiap hari. Peregangan ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari luka yang menyebabkan pembentukan parut.

Jika fimosis dan infeksi tidak segera diobati, mungkin akan terjadi kesulitan dalam buang air pada anak, anak akan sering sakit panas, dan meraba-raba kemaluannya. Pada infeksi akut dapat menyebabkan kencing nanah. Hal yang paling ditakutkan dari segi medis apabila terjadi infeksi bertingkat (ascendes) dapat mengakibatkan infeksi ginjal. Dalam jangka panjang, dampaknya adalah ketika anak sudah dewasa nanti, yang memungkinkan terjadinya gangguan dalam melakukan hubungan seksual berupa ketidaksuburan atau hambatan seksual lainnya di kemudian hari.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY