Bahaya Kurang Tidur pada Ibu Hamil yang Berpuasa

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Selama kondisi ibu hamil dinyatakan sehat oleh dokter, maka ibu hamil diperbolehkan untuk menjalankan ibadah puasa khususnya selama bulan Ramadhan. Namun, tentunya banyak hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya, kecukupan waktu istirahat setiap harinya. Seperti kita ketahui bahwa berpuasa membuat jatah tidur berkurang karena harus bangun dini hari untuk menyiapkan makanan dan bersantap sahur.

Perubahan hormon yang menyertai kehamilan membuat wanita hamil cenderung mudah lelah, lesu, dan lemah. Hal ini dapat semakin buruk jika ibu hamil sering kurang tidur. Kesehatan ibu dan janin dalam kandungan tentu dirugikan akibat hal ini. Terlebih lagi, kurang istirahat atau kurang tidur tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Meskipun ibu hamil mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat, sering kurang tidur tetap meningkatkan risiko timbulnya berbagai masalah kehamilan.

Kurang tidur membuat tubuh kurang bugar dan mudah lelah. Dampak dari kelelahan ini dapat memicu kontraksi rahim. Meskipun kelelahan bukan faktor pemicu utama kontraksi, namun ini perlu diwaspadai. Bila terjadi kontraksi berlebihan karena kelelahan dan kurang tidur pada trimester pertama, hal ini dikhawatirkan dapat menyebabkan keguguran. Sedangkan bila terjadi ketika kehamilan telah mencapai trimester kedua atau ketiga, dampak buruknya adalah berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur.

Menurut sebuah riset, kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil berkaitan dengan komplikasi pada saat lahir, yaitu berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur. Hubungan antara komplikasi kelahiran dan kualitas tidur ibu hamil ini tampaknya ada pada fungsi sistem kekebalan tubuh. Waktu tidur yang sering tidak tercukupi membuat sistem kekebalan tubuh tidak dapat menjalankan tugasnya secara optimal. Waktu tidur yang singkat, dan kualitas tidur yang buruk dapat melemahkan respon inflamasi tubuh dan menyebabkan kelebihan produksi sitokin (molekul yang berhubungan dengan sel-sel kekebalan).

Selain itu, kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko preeklampsia, yaitu suatu kondisi di mana tekanan darah meningkat selama masa kehamilan. Penyebab pastiĀ  preeklampsia memang belum diketahui secara pasti. Namun, telah ada penelitian yang melaporkan adanya keterkaitan kualitas tidur dan risiko preeklampsia pada ibu hamil. Preeklampsia dapat menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Kondisi ini dapat mencegah plasenta untuk mendapatkan dan memasok darah, oksigen, dan nutrisi yang cukup untuk janin. Pada gilirannya, hal ini dapat menyebabkan berat badan lahir rendah dan masalah saat kehamilan maupun masalah saat persalinan lainnya.

Tidak hanya karena harus bangun sahur, kurang tidur di malam hari memang sering dialami oleh wanita hamil karena berbagai alasan lainnya. Namun, ini tidak bisa dibiarkan mengingat efeknya bisa begitu membahayakan kehamilan. Maka dari itu, diperlukan upaya untuk memaksimalkan waktu tidur terutama ketika berpuasa. Karena waktu tidur malam berkurang untuk sahur, maka sebaiknya tidur lebih awal. Tidak ada salahnya juga untuk tidur kembali usai sahur. Namun, sebaiknya beri jeda beberapa saat agar tidak menimbulkan masalah pada pencernaan.

Perlu diketahui, langsung tidur setelah sahur bisa menyebabkan makanan yang sudah masuk ke lambung naik kembali ke tenggorokan. Secara medis, kondisi ini dikenal dengan refluks esofagus. Untuk mencegah ini, selain memberi jeda beberapa saat usai makan, sebaiknya gunakan bantal yang lebih tinggi agar gaya gravitasi tidak membuat isi lambung naik ke tenggorokan. Tidur siang juga sangat disarankan bagi ibu hamil untuk menebus kurangnya waktu tidur serta mengatasi kelelahan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY