Bahaya Penyakit Difteri pada Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Negara Indonesia termasuk ke dalam negara berkembang yang sejak beberapa tahun silam melaporkan kasus wabah difteri yang menyerang anak-anak. Pada tahun 2011, provinsi Jawa Timur mencatat bahwa difteri termasuk KLB (Kejadian Luar Biasa). Dan baru-baru ini, Indonesia kembali digemparkan dengan wabah difteri yang menyerang di beberapa daerah di Indonesia. Pemerintah telah menerapkan upaya-upaya untuk mencegah kasus difteri. Salah satunya dengan imunisasi DPT pada bayi dan TD pada orang dengan usia >7 tahun.

Walaupun sudah ada usaha dari pemerintah untuk mencegah wabah difteri. Namun, kita tetap harus mengetahui tentang penyakit difteri dan bahayanya jika menyerang anak-anak. Kunjungilah posyandu atau pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan imunisasi DPT bagi bayi Anda. Terbukti dari beberapa kasus KLB di Indonesia, daerah terbanyak yang melaporkan kasus difteri adalah daerah yang cakupan imunisasinya rendah.

Pengertian penyakit difteri sendiri yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang ditandai dengan gejala demam serta selaput putih yang tipis keabu-abuan pada tenggorokan (laring, faring, tonsil) yang tidak mudah lepas dan biasanya mudah terjadi perdarahan. Penyebaran penyakit difteri ini sangat cepat dan mudah, apabila dalam suatu komunitas ada yang terkena penyakit difteri, maka besar kemungkinan akan menular pada orang lain.

Penularan penyakit difteri dapat melalui udara, saat penderita penyakit difteri bersin atau batuk, bisa juga melalui percikan ludah atau melalui kontak langsung dengan benda yang sudah tertempel bakteri penyebab difteri.

Efek dari serangan bakteri yang bersifat toksik dapat menyebabkan anak demam serta adanya selaput putih keabu-abuan dapat menyebabkan iritasi pada daerah tenggorokan, sehingga bisa mengalami gangguan pernapasan seperti sesak napas, batuk dan suara anak menjadi serak.

Bahaya lain yang dapat mengancam anak jika terjangkit penyakit difteri yakni dapat terjadi:

  • Obstruksi total pada saluran napas (jalan napas tertutup)

Obstruksi pada saluran napas dapat menyebabkan anak tidak bisa menghirup oksigen secara maksimal. Akibatnya anak mengalami gagal napas yang dapat menyebabkan tubuh tidak bisa terlaliri oksigen secara adekuat.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening

Bengkak di leher menyebabkan anak terlihat seperti gandongan, hal ini bisa jadi karena kelenjar getah bening yang ada di daerah sekitar leher anak membengkak. Pembengkakkan yang terjadi dikarenakan efek bakteri yang membentuk selaput putih yang tidak hanya menyerang bagian tonsil, laring dan faring saja, akan tetapi sampai pada kelenjar getah bening.

  • Anak mudah lelah dan lemas

Gejala ini dakibatkan karena efek toksin yang dikeluarkan oleh bakteri penyebab difteri yang menyebar di dalam darah. Oksigen dan nutrisi yang seharusnya disebarkan ke dalam darah untuk sumber tenaga, tercemar oleh toksin dari bakteri. Sehingga anak akan mudah lelah dan lemas.

  • Terjadi miokarditis

Setelah difteri menyerang anak selama 2-7 minggu, biasanya akan terjadi infeksi pada otot jantung atau miokarditis. Miokarditis dapat menyebabkan nadi anak tidak teratur, lemah, dan paling parah bisa menyebabkan gagal jantung. Hal yang paling parah jika telah menyerang otot jantung, yaitu kematian pada anak karena otot jantung mengalami kelumpuhan. (SPT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here