Bahaya Perut Buncit Pada Pria

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Perut buncit bukan hal yang aneh lagi di kalangan pria. Kelebihan lemak perutlah yang menjadi penyebabnya. Lemak perut tidak terbatas pada bantalan lemak ekstra yang terletak tepat di bawah kulit, yang disebut lemak subkutan, tetapi juga melibatkan timbunan lemak visceral  yang terletak jauh di dalam perut di sekitar organ-organ internal. Tidak hanya orang yang kelebihan berat badan, orang kurus pun banyak yang memiliki perut buncit.

Secara umum, bentuk tubuh adalah refleksi dari gen dan gaya hidup. Gen memainkan peran dalam penentuan kemana lemak akan didistribusikan. Hal ini berkaitan dengan dua tipe tubuh, yaitu bentuk apel (apple-shape) dan bentuk pir (pear shape). Tubuh yang berbentuk apel cenderung menyimpan lemak di sekitar perut. Sedangkan pada tubuh yang berbentuk pir, lemak umumnya tersimpan di daerah yang lebih rendah seperti bokong.

Memiliki timbunan lemak ekstra tidak hanya sebatas mengganggu tampilan. Timbunan lemak di perut khususnya lemak visceral berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit. Dibandingkan lemak di sekitar pinggul, lemak di sekitar organ perut lebih berbahaya karena sifatnya aktif secara metabolik dan melepaskan lebih banyak toksin yang memicu peradangan. Oleh karenanya, sekarang banyak ahli lebih cenderung menggunakan pengukuran lingkar pinggang atau rasio pinggang-pinggul yang menunjukkan tingkat lemak perut, ketimbang pengukuran indeks massa tubuh yang kaitannya antara berat dan tinggi badan.

Beberapa bahaya akibat perut buncit pada pria, diantaranya:

  • Sindrom metabolik. Perut buncit adalah indikator kuat seseorang lebih mungkin terkena sindrom metabolik. Lemak perut mengeluarkan sinyal inflamasi yang mengganggu efek insulin di jaringan perifer, termasuk otot. Ketika tubuh menjadi lebih resisten terhadap sinyal insulin, pada gilirannya ini berkembang menjadi sindrom metabolik. Sindrom metabolik terkait dengan sekumpulan gejala yang menghambat kemampuan tubuh mengonsumsi dan menyimpan energi secara efektif.
  • Penyakit jantung. Peningkatan lemak perut dikaitkan dengan risiko tinggi penyakit jantung koroner. Timbunan lemak akan mengeras dan membentuk plak di arteri. Akibatnya, kinerja jantung melemah sehingga tidak dapat menerima darah dan oksigen dengan baik. Selain itu, wanita cenderung menyimpan lemak pada betis dan bokong, sedangkan pria cenderung menimbun lemak di perut. Ini menjadi salah satu alasan mengapa pria yang berusia 30-an dan 40-an jauh lebih besar kemungkinannya terkena penyakit jantung dibandingkan wanita pada usia yang sama.
  • Pikun. Menurut sebuah studi 2013 yang diterbitkan dalam jurnal “Cell Reports”, protein yang memetabolisme lemak di hati adalah protein yang sama yang ditemukan dalam otak yang bertanggung jawab untuk memori dan kemampuan belajar. Protein ini disebut PPARalpha. Awalnya, lemak perut hanya menguras PPARalpha pada hati, tapi PPARalpha pada otak juga akan terkuras dari waktu ke waktu. Akibatnya, fungsi otak menurun, yang dapat menyebabkan demensia dan Alzheimer.
  • Disfungsi ereksi. Perut buncit juga berpengaruh pada kualitas kehidupan seksual. Lemak perut berlebih mengganggu kemampuan tubuh untuk memasok darah ke penis, dan menurunkan produksi testosteron. Ini karena lemak perut menghasilkan enzim yang disebut aromatase. Enzim ini mengkonversi testosteron ke estrogen dalam jalur satu arah. Akibat penurunan kadar testosteron, seorang pria bisa mengalami ginekomastia (pembentukan payudara) dan disfungsi ereksi.
  • Kanker payudara. Tidak hanya wanita, pria juga berisiko terkena kanker payudara. Banyaknya timbunan lemak dalam tubuh menghasilkan enzim yang mengubah testosteron menjadi estrogen. Semakin banyak lemak tubuh, semakin tinggi tingkat estrogen dalam tubuh, yang berarti semakin tinggi risiko seseorang terkena kanker payudara. Ini karena estrogen merupakan pakan bagi sel kanker.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY