Bahaya Teknik Penoplasty pada Pria

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Umumnya, para pria cenderung khawatir pada ukuran penisnya. Kekhawatiran tersebut seringkali disebabkan oleh ukuran penis yang terlalu pendek atau terlalu kecil. Menurut asumsi umum, pria yang memiliki penis besar disebut-sebut sebagai sosok pria yang gagah. Maka tidak heran bila banyak pria yang melakukan berbagai cara guna memperbesar ukuran penisnya. Seiring perkembangan teknologi, bila wanita bisa membesarkan payudaranya melalui operasi, kini pria juga bisa membesarkan penisnya dengan metode yang disebut penoplasty.

Penoplasty adalah teknik terbaru untuk memperbesar ukuran penis melalui silikon implan dan suntikan asam androlog. Teknik semacam ini tidak jauh berbeda dengan teknik yang digunakan untuk pembesaran payudara pada wanita. Penoplasty dipercaya dapat meningkatkan seksualitas pada pria dengan meningkatkan panjang dan ketebalan penis. Teknik ini juga dianggap sebagai teknik pembesaran penis dengan persentase efek samping yang sangat rendah.

Untuk meningkatkan panjang penis, sayatan akan dibuat di atas pangkal penis. Dengan ini, ligamentum suspensorium dapat dilepaskan sehingga memungkinkan penis maju ke depan, dan bertambah panjang satu sampai dua inci. Sedangkan untuk menambah diameter penis, digunakan metode implan dengan cara suntik lemak. Lemak biasanya diambil dari bagian tubuh yang kelebihan lemak, seperti perut atau paha. Dengan ini, diameter penis bisa bertambah satu sampai dua inci.

Prinsipnya, penoplasty dapat dilakukan bila ada ketidaknyamanan psikologis nyata mengenai kekurangan yang dirasakan dari ukuran penis. Kekurangan tersebut seringkali menyebabkan kecemasan selama keintiman dan dalam situasi sosial di mana tubuh ditampilkan. Penoplasty akan sangat membantu dalam kasus mikropenis (panjang penis kurang dari tujuh centimeter saat ereksi), di mana penetrasi bisa bermasalah.

Sama halnya dengan prosedur operasi pada umumnya, penoplasty juga memiliki sejumlah komplikasi. Komplikasi ini termasuk infeksi, perdarahan, mati rasa pada area yang terkena, jaringan parut, dan pengumpulan darah di bawah kulit atau pembekuan darah. Profesor Kevan Wylie, konsultan kedokteran seksual, seperti dilansir dari laman Telegraph, menganggap bahwa prosedur bedah untuk pembesaran atau pemanjangan penis itu tidak efektif, berpotensi membahayakan.

Penyuntikkan lemak misalnya, seiring waktu tubuh akan menyerap kembali lemak sehingga dapat mengakibatkan penis kembali ke ukuran aslinya. Prosedur pemanjangan juga memiliki kelemahan. Banyak pria yang telah menjalani perawatan ini tidak benar-benar puas akan hasilnya sehingga justru membuat seks menjadi tidak nyaman. Akibatnya, pria tersebut harus melakukan lebih banyak manuver dengan pasangannya untuk benar-benar bisa menikmati seks.

Prosedur pembesaran penis memang bisa mendongkrak kepercayaan diri pria. Untuk mempertahankannya, tetap saja diperlukan pengaturan pola makan yang tepat dan berolahraga secara teratur. Profesor Wylie menyarankan ketimbang menjalani prosedur yang berpotensi membahayakan, para pria sebaiknya lebih dulu mencoba menurunkan berat badan dengan berfokus pada pola hidup sehat. Upaya penurunan berat badan memungkinkan berkurangnya kelebihan lemak dari seluruh daerah kemaluan dan membuat penis tampak lebih besar.

Bila memang prosedur bedah tetap menjadi pilihan, pertimbangkan keuntungan dan risikonya secara hati-hati. Pria harus bertanya sangat hati-hati tentang prosedur yang ditawarkan, tentang hasil bedah, dan tentang kemungkinan komplikasi sebelum menghabiskan uang dalam jumlah besar demi melakukan operasi. Jika operasi adalah satu-satunya cara di mana seorang pria bisa mendapatkan kembali kepercayaan dirinya serta meningkatkan citra dirinya, disarankan untuk mencari saran dari ahli bedah berpengalaman yang bekerja di pusat medis atau klinik terpecaya dan terkemuka.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY