Bahayakah Sindrome HELLP atau Komplikasi Tahap Kehamilan?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Sindrom HELLP adalah kondisi komplikasi yang dapat terjadi pada tahap kehamilan (biasanya mulai minggu ke-27 kehamilan), atau kadang pasca melahirkan. Sindrom mematikan ini lebih beresiko dialami pada wanita hamil yang berusia di atas 34 tahun, dengan kelompok predeleksi ras kulit putih atau keturunan Eropa, dan biasanya ada riwayat preeclampsia. Sindrom ini dinamakan berdasarkan karakteristik sindrom:

  • H (hemolysis) yang ditandai dengan peningkatan serum lactate dehydrogenase (LDH), anemia dengan keberadaan schizocyte (fragmen sel darah merah berbentuk ireguler dan memiliki 2 ujung yang menyudut) dan Burr cell (sel darah merah yang mengerut dengan spikula, bentuknya seperti bintang laut) pada pemeriksaan hapusan darah tepi, dan konsentrasi haptoglobin yang rendah.
  • EL (elevated liver enzymes) yaitu peningkatan enzim aspartate aminotransferase (AST) dan alanine aminotransferase (ALT) dikarenakan adanya disfungsi hati.
  • LP (low platelet count) yaitu kadar platelet yang menurun karena tingginya aktivitas adhesi platelet pada sel endotelium.

Gejala klinis sindrom HELLP adalah nyeri di perut bagian kanan atas atau nyeri epigastrium dan mual-muntah. Nyeri perut pada sindrom HELLP bersifat fluktuatif, seperti pada kasus kolik. Beberapa pasien mengalami malaise beberapa hari sebelum munculnya gejala. 30-60% pasien mengeluhkan sakit kepala, dan sekitar 20% mengalami gejala gangguan visul. Gejala-gejala ini biasanya berkelanjutan dan intesitasnya berubah-ubah. Salah satu ciri khas dari sindrom HELLP adalah eksaserbasi (kekambuhan) gejala di malam hari dan mereda di pagi hari. Sebagian besar wanita yang mengalami sindrom ini juga mengalami hipertensi dan proteinuria (adanya protein di dalam urin).

Sindrom HELLP termasuk kondisi medis darurat, karena beresiko tinggi menyebabkan kematian pada ibu dan janin. Kasus kematian akibat sindrom HELPP yang tercatat bervariasi mulai 1 hingga 25% dan terutama disebabkan oleh komplikasi-komplikasi berikut: disseminated intravascular coagulation (DIC), gagal hati, adult respiratory distress syndrome (ARDS), gagal ginjal akut, sepsis, stroke, dan henti jantung-paru. Apabila Anda, rekan, atau keluarga mengalami gejalagejala klinis seperti yang telah disebutkan di atas, segeralah mengunjungi fasilitas medis terdekat.

Secara umum, terdapat 3 pilihan utama dalam tata laksana pada wanita yang emnaglami sindrom HELLP:

1) Persalinan yang segera, yang merupakan pilihan utama pada kehamilan usia 34 minggu atau lebih.

2) Persalinan dalam 48 jam setelah evaluasi, stabilisasi kondisi klinis ibu dan terapi kostikosteroid. Terapi kortikosteroid prenatal mempercepat maturasi paru janin, tetapi paru janin harus dalam kondisi siap untuk dipacu maturasinya. Oleh karena itu, opsi ini ditujukan bagi kehamilan usia 27-34 minggu.

3)Tata laksana konservatif selama lebih dari 48-72 jam, sebagai pilihan untuk kehamilan usia di bawah 27 minggu. Pada kondisi ini, terapi kortikosteroid sering digunakan, tetapi dosisnya dapat bervariasi tergantung kasus. (MHW)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here