Bahayanya Anak Remaja Malas Bergerak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Jumlah anak dan remaja Indonesia yang kurang beraktivitas fisik ternyata cukup besar. Padahal, kurang beraktivitas fisik di kalangan anak dan remaja ternyata membawa berbagai dampak buruk di kemudian hari, baik dari sisi kesehatan, kognitif, dan psikis.

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, hampir separuh dari proporsi penduduk Indonesia yang berusia di atas 10 tahun, sekitar 42%, tergolong memiliki gaya hidup tidak aktif atau sering disebut sedentar (sedentary). Lebih spesifik, pada kelompok usia anak (10–14 tahun) yang memiliki gaya hidup tidak aktif, persentasenya sebesar 67%. Gaya hidup sedentar sendiri diartikan sebagai pola perilaku manusia yang minim aktivitas atau gerakan fisik.

Tak dipungkiri, kemajuan teknologi saat ini turut berkontribusi terhadap gaya hidup masyarakat yang minim melakukan aktivitas atau malas untuk bergerak. Perkembangan layanan smartphone, misalnya, memungkinkan seseorang untuk melakukan aktivitasnya cukup dari rumah. Mau membeli sesuatu, diantar ke tempat tertentu, atau bermain games, bisa dilakukan melalui smartphone. Dan, kaum remaja masa kini sudah akrab dengan smartphone, terlebih di kota-kota besar.

Sebaliknya, pada beberapa dekade silam, orang-orang harus berjalan keluar rumah untuk menyelesaikan berbagai urusan tersebut. Meski tak terlihat efektif, namun ada aktivitas fisik yang dilakukan. Inilah yang menyebabkan generasi muda masa kini sering dicap sebagai orang-orang yang malas gerak.

“Masyarakat kita masih cenderung mengabaikan bahaya dari gaya hidup sedentary ini. Dalam jangka panjang, kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko terhadap kesehatan, khususnya komplikasi berbagai penyakit tidak menular, seperti obesitas, hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung di usia muda,” terang dr. Andi Kurniawan, Sp.KO, dokter spesialis olahraga.

Dari sisi psikologi, kurang aktivitas fisik rentan menyebabkan gangguan kecemasan, kurang kepercayaan diri sehingga menghambat kemampuan sosialisasi, dan perilaku agresif.

“Aktivitas atau latihan fisik teratur meningkatkan sirkulasi dan oksigenasi darah ke otak sehingga meningkatkan kemampuan kognitif (logika analitik) maupun afektif (psikososial dan emosional). Pola aktivitas fisik yang teratur dapat meningkatkan konsentrasi yang menunjang prestasi, kreativitas, kemampuan menyelesaikan masalah serta senantiasa berpikir positif sehingga mampu mengendalikan stres,” tambah Elizabeth Santosa, Psi, psikolog sosial.

Malas gerak adalah kebiasaan yang perlu diubah. Namun, bagi beberapa orang kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas harian sehingga mereka terlanjur merasa nyaman. Tanpa disadari, rutinitas ini mulai dipupuk sejak masa kanak-kanak atau remaja.

Maka, sangat penting mengajak anak-anak dan para remaja melakukan aktivitas fisik. Tidak hanya orangtua yang berperan menjadi motivator, lingkungan sekolah juga perlu memotivasi para muridnya untuk aktif bergerak.

Seseorang tidak perlu melakukan aktivitas berskala berat. Tapi, lakukan secara bertahap dan rutin setiap hari. Aktivitas fisik ini bisa diterapkan melalui beragam permainan, misalnya bermain trampolin, agar lebih menyenangkan. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here