Batuk rejan

Batuk rejan (pertusis) adalah infeksi saluran pernapasan yang sangat menular. Pada banyak orang, batuk rejan ditandai dengan batuk yang parah diikuti dengan pengambilan napas yang melengking tinggi. Sebelum vaksin dikembangkan, batuk rejan dianggap sebagai penyakit masa kanak-kanak. Sekarang batuk rejan sering menyerang anak-anak yang masih sangat muda untuk melengkapi seluruh vaksinasi. Batuk rejan juga dapat dialami remaja atau orang dewasa dengan sistem imun yang sudah memudar. Kematian yang terkait dengan batuk rejan sangat jarang tetapi paling sering terjadi pada bayi. Itulah mengapa begitu penting bagi ibu hamil dan orang-orang yang akan berinteraksi dengan bayi agar mendapatkan vaksinasi batuk rejan.

Gejala
Jika Anda terinfeksi batuk rejan, gejala biasanya tampak dalam waktu satu hingga tiga minggu. Gejala awal biasanya ringan dan mirip seperti flu biasa.
• Hidung meler
• Hidung tersumbat
• Bersin-bersin
• Mata merah berair
• Demam ringan
• Batuk kering

Setelah satu atau dua minggu, tanda dan gejala akan semakin memburuk. Dahak tebal mengakumulasi di saluran napas sehingga menyebabkan batuk yang tidak terkontrol. Serangan batuk parah dan berkepanjangan mungkin menyebabkan:
• Muntah
• Wajah menjadi merah atau biru
• Kelelahan ekstrim
• Napas dengan suara melengking
Kadang-kadang, batuk persisten adalah satu-satunya pertanda bahwa remaja atau orang dewasa memiliki batuk rejan.

Kapan harus ke dokter?
Segera hubungi dokter jika Anda mengalami batuk berkepanjangan yang menimbulkan rasa ingin muntah, wajah merah atau kebiruan dan terdengar lengkingan saat mengambil napas.

Penyebab
Batuk rejan disebabkan oleh bakteri. Ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, tetesan penuh kuman akan menyembur ke udara dan terhirup masuk ke dalam paru-paru orang yang kebetulan berada di dekatnya.

Fakto risiko
Batuk rejan dianggap meningkat karena dua alasan utama. Vaksin batuk rejan yang Anda terima pada waktu anak-anak sudah habis keefektifannya sehingga membuat sebagian besar remaja dan orang dewasa rentan terhadap infeksi selama terjadinya wabah. Selain itu, anak-anak tidak sepenuhnya kebal terhadap batuk rejan sampai mereka telah menerima setidaknya tiga suntikan.

Komplikasi
Banyak orang dapat sembuh dari batuk rejan tanpa masalah. Komplikasi yang terjadi biasanya merupakan efek samping dari batuk berat seperti memar atau retak tulang rusuk, hernia perut dan pecahnya pembuluh darah di kulit atau bagian putih mata.

Pada bayi terutama bayi di bawah 6 bulan, komplikasi dari batuk rejan mungkin lebih parah seperti infeksi telinga, pneumonia, napas yang melambat, dehidrasi, kejang dan kerusakan otak. Karena bayi dan balita paling berisiko terkena komplikasi dari batuk rejan, mereka lebih cenderung memerlukan perawatan di rumah sakit. Komplikasi bisa menjadi situasi yang mengancam jiwa bagi bayi dengan usia kurang dari 6 bulan.

Tes dan diagnosa
Mendiagnosis batuk rejan dalam tahap awal bisa sulit karena tanda dan gejala mirip dengan penyakit pernapasan umum lainnya seperti pilek, flu atau bronkitis. Kadang-kadang, dokter dapat mendiagnosa batuk rejan hanya dengan bertanya tentang gejala dan mendengarkan batuk. Tes medis mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis. Tes tersebut meliputi:

• Pengujian hidung dan tenggorokan: Dokter akan mengambil sampel usap atau hisap dari hidung dan tenggorokan. Sampel tersebut kemudian diperiksa untuk bukti keberadaan bakteri batuk rejan.
• Tes darah: Sampel darah dapat diambil dan dikirim ke laboratorium untuk memeriksa jumlah sel darah putih yang tinggi. Sel darah putih membantu tubuh melawan infeksi seperti batuk rejan. Jumlah sel darah putih yang tinggi biasanya menunjukkan adanya infeksi atau peradangan. Tes darah merupakan tes umum dan tidak spesifik untuk batuk rejan.
• Rontgen dada: Dokter mungkin melakukan rontgen dada untuk memeriksa ada tidaknya peradangan atau cairan dalam paru-paru yang dapat terjadi ketika pneumonia memperburuk batuk rejan dan infeksi pernapasan lainnya.

Perawatan dan pengobatan
Bayi biasanya dirawat di rumah sakit untuk perawatan karena batuk rejan lebih berbahaya bagi kelompok usia tersebut. Jika anak Anda menolak makanan atau cairan, cairan intravena mungkin diperlukan. Anak Anda juga akan diisolasi untuk mencegah penularan infeksi. Pengobatan untuk anak-anak dan orang dewasa biasanya dapat dikelola di rumah.

Obat-obatan
Antibiotik dapat membunuh bakteri penyebab batuk rejan dan membantu mempercepat pemulihan. Anggota keluarga dapat juga diberikan antibiotik untuk pencegahan. Sayangnya, tidak banyak antibiotik yang tersedia untuk meredakan batuk. Obat batuk yang dijual bebas tidak terlalu efektif untuk mengobati batuk rejan dan tidak dianjurkan.

Gaya hidup dan pengobatan di rumah
Pengobatan batuk rejan di rumah dapat dibantu dengan:
• Banyak istirahat.
• Meminum banyak cairan terutama air.
• Makan porsi kecil dengan frekuensi lebih sering, untuk mencegah rasa ingin muntah setelah batuk.
• Gunakan alat penguap untuk membantu menenangkan paru-paru teriritasi dan melonggarkan sekresi pernapasan.
• Menjaga rumah Anda bebas dari iritasi yang dapat memicu batuk seperti asap tembakau dan asap dari perapian.
• Mencegah penularan dengan menutup mulut ketika batuk atau memakai masker dan sering mencuci tangan.

Pencegahan
Cara terbaik untuk mencegah batuk rejan adalah dengan vaksin pertusis, yang sering dokter berikan dalam kombinasi dengan vaksin terhadap dua penyakit serius lainnya (difteri dan tetanus). Dokter biasanya menyarankan vaksinasi awal pada masa bayi. Vaksin terdiri dari 5 rangkaian suntikan, biasanya diberikan kepada anak-anak pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15-18 bulan dan 4-6 tahun.

Efek samping vaksin
Vaksin dapat menyebabkan efek samping demam, sifat mudah tersinggung atau nyeri di tempat suntikan. Dalam kasus yang jarang, vaksin dapat menimbulkan efek samping yang parah seperti demam tinggi, kejang, shock, koma dan tangisan persisten yang berlangsung lebih dari tiga jam.
Suntikan penguat
• Untuk remaja: Karena kekebalan dari vaksin pertusis cenderung berkurang pada usia 11 tahun, dokter menyarankan suntikan penguat pada usia tersebut untuk mencegah batuk rejan (pertusis), difteri dan tetanus.
• Untuk orang dewasa: Beberapa jenis vaksin tetanus dan difteri setiap-10-tahun juga mencakup perlindungan terhadap batuk rejan (pertusis). Selain untuk mencegah batuk rejan, vaksin ini juga akan mengurangi risiko penularan batuk rejan pada bayi.
• Untuk wanita hamil: Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat merekomendasikan wanita hamil untuk menerima vaksin pertusis antara 27 minggu dan 36 minggu kehamilan. Vaksin juga dapat memberikan perlindungan kepada bayi selama beberapa bulan pertama kehidupan