Benarkah Kalau Sudah Pernah Aborsi tidak Bisa Hamil Lagi?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Aborsi adalah tindakan medis untuk menghentikan kehamilan guna mencegah terjadinya kelahiran. Terkadang dokter kandungan menyarankan aborsi apabila kehamilan disertai adanya gangguan yang membahayakan ibu maupun janin dan apabila kehamilan terjadi karena pemerkosaan yang membuat korban menjadi tertekan secara psikologis. Di sisi lain, kini makin marak kasus aborsi yang didasari alasan karena tidak mampu membiayai anak atau karena kehamilan tersebut merupakan hasil hubungan terlarang. Ironisnya, mereka yang beralasan seperti ini kebanyakan melakukan aborsi secara tidak aman dengan pergi ke “dukun”, klinik penyedia aborsi ilegal, atau mengonsumsi obat atau jamu “peluntur” yang tak jelas asal-usulnya.

Aborsi yang dilakukan secara legal oleh para ahli medis karena memang demi keselamatan saja tak lepas dari risiko komplikasi, diantaranya infeksi rahim, pendarahan berat, dan kerusakan rahim. Bahkan, aborsi disebut-sebut lebih berbahaya ketimbang melahirkan. Anda bisa membayangkan sendiri bagaimana jadinya bila aborsi dilakukan di klinik aborsi ilegal di mana dokternya belum tentu memiliki keahlian dalam bidang aborsi. Selain itu, peralatan yang tersedia pun belum tentu memenuhi standar keamanan. Tak hanya lebih berisiko infeksi, efek jangka panjangnya adalah terganggunya kesehatan reproduksi.

Jaringan yang tersisa dalam rahim akibat aborsi yang tidak bersih dapat memicu pertumbuhan tumor dan semacamnya. Sejumlah penelitian juga menyebutkan bahwa wanita yang pernah melakukan aborsi menjadi lebih berisiko terkena kanker serviks dan kanker ovarium. Ini bisa terjadi karena terganggunya perubahan hormonal yang secara alami menyertai kehamilan, kerusakan serviks pasca aborsi yang tak ditangani dengan baik, dan terganggunya kinerja sistem imun akibat stres yang tak terkendali.

Pada dasarnya, aborsi tidak mengurangi kemungkinan untuk hamil kembali di kemudian hari. Namun, janin dari ibu yang pernah melakukan aborsi menjadi lebih rentan mengalami masalah kehamilan. Kerusakan rahim pasca aborsi dapat menyebabkan perkembangan plasenta abnormal. Salah satunya suatu kondisi yang disebut plasenta previa, di mana plasenta terletak di bagian bawah rahim sehingga menutupi jalan lahir. Ini adalah salah satu kondisi yang dapat menyebabkan bayi lahir prematur. Kelahiran bayi belum cukup bulan pada gilirannya dapat menyebabkan kematian neonatal (kematian bayi yang berumur 0 sampai 28 hari). Terjadinya kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim) juga dikaitkan riwayat aborsi. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab keguguran, dan bila tak segera diberi penanganan dapat berakibat fatal.

Karena berisiko tinggi, berkonsultasilah dengan dokter terpercaya untuk mengetahui bagaimana prosedur aborsi yang aman serta pikirkan dengan matang antara manfaat dan risikonya. Secara hukum, aborsi tanpa indikasi medis termasuk kejahatan dan ada undang-undang yang mengaturnya. (RFZ)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY