Benarkah Pria Cenderung Mencari Pasangan yang Mirip dengan Sosok Ibunya

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Ada anggapan yang beredar luas kalau pria cenderung mencari pasangan yang mirip dengan orang tuanya. Benarkah demikian realitanya?

Sejumlah penelitian memperkuat anggapan tersebut. Kemiripan tersebut bisa dari segi sifat, bisa juga dari segi fisik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, pria ternyata memberikan gambaran sosok wanita idaman yang mirip ibu mereka pada saat masih muda.

Uniknya lagi, ternyata gambaran kemiripan fisik pasangan dengan orangtua juga sangat berkaitan dengan kualitas hubungan mereka dengan orang tuanya. Semakin baik hubungan anak dengan orang tuanya, maka semakin besar pula kecenderungan seseorang untuk memilih pasangan yang secara fisik mirip dengan orangtua mereka.

Salah satu teori yang berkembang terkait kondisi ini adalah teori imprint. Sebagai ilustrasi, ketika seekor anak bebek menetas, anak bebek tersebut kemudian akan terus mengikuti dan “menempel” dengan induknya, yaitu sosok yang pertama kali dilihatnya.

Ternyata alam bawah sadar manusia juga melakukan imprint terhadap orangtua atau pengasuhnya. Oleh karena itu, secara tidak sadar, mereka akan “menempel” atau memilih pasangan yang menyerupai sosok orangtua mereka.

Hal itu disebabkan karena pria tumbuh dan berkembang bersama ibunya sejak awal hingga dewasa. Alhasil, ibu menjadi semacam ‘template‘ bagi para pria untuk mencari pasangan.

Sebaliknya, ayah–tak peduli seberapa sayangnya–tidak mampu meninggalkan jejak yang dalam terhadap pilihan pasangan anak perempuannya. Meski kadang wanita pun akan mencari sosok pasangan yang mirip ayahnya.

Para ahli juga memercayai teori attachment (kelekatan) yang prinsipnya sangat mirip dengan imprint. Seorang anak akan membangun ikatan dan attachment pada orang tuanya agar bisa bertahan hidup. Setelah beranjak dewasa, seseorang akan semakin lepas dari sosok orangtua. Maka untuk bisa bertahan hidup, ia akan mencari sosok yang bisa memenuhi segala kebutuhannya, seperti halnya orangtua memenuhi kebutuhan anaknya.

Menariknya, meski hubungan anak dengan orang tuanya tidak baik, anak tetap mungkin saja memilih pasangan hidup yang mirip dengan orang tuanya. Ini bisa terjadi secara tidak sadar.

Sayangnya, ada potensi konflik dan masalah serupa antara anak dan orangtua terulang saat si anak memilih pasangan yang mirip orang tuanya. Maka, bila dalam hubungan tersebut pasangan ternyata memiliki sifat-sifat negatif dari orangtua anak, tingkat kepuasan dalam hubungan tersebut bisa rendah.

Walapun sifat orangtua menjadi salah satu faktor dalam pemilhan pasangan, ada hal-hal lain juga yang tetap harus dipertimbangkan. Misalnya apakah Anda merasa cocok dengan pasangan, punya pola pikir dan tujuan yang sama atau tidak, serta apakah Anda lebih bahagia bersamanya atau tidak.

Kemiripan sifat atau penampilan dengan orangtua tidak melulu jadi patokan atau tolok ukur dalam menentukan pasangan. Bisa jadi, pasangan yang sifatnya sungguh berbeda dengan orangtua justru saling melengkapi. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here