Benarkah Sunat Menyebabkan Gangguan Ereksi?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Terlepas dari ajaran agama, sunat atau khitan dianjurkan karena alasan kebersihan guna mencegah infeksi yang berkaitan dengan saluran kemih dan organ reproduksi pria. Sunat bertujuan untuk membuang kulit yang menutupi (kulup). Penis yang dikhitan dapat meminimalisir penumpukan smegma (sel kulit dan minyak alami di bawah kulup) karena area penis menjadi lebih mudah dibersihkan sehingga memperkecil kemungkinan infeksi. Bahkan, sunat juga telah diteliti dapat menurunkan risiko terjangkit HIV. Akan tetapi, ada anggapan kalau sunat dapat menyebabkan gangguan ereksi sehingga banyak pria dewasa mengurungkan niatnya untuk sunat. Lantas, benarkah sunat menyebabkan gangguan ereksi, seperti disfungsi ereksi atau impotensi?

Kaitan sunat dan gangguan ereksi telah diteliti banyak ahli. Namun, hingga kini masih menjadi kontroversi karena hasil penelitian yang dilaporkan beragam. Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Urology International melaporkan bahwa pria yang disunat memiliki sensitivitas seksual yang lebih rendah ketimbang pria yang tidak disunat. Namun, ahli lain menganggap hasil penelitian tersebut tidak cukup kuat karena hanya menemukan sedikit perbedaan pada dua kelompok yang diteliti sehingga tidak cukup menjadi dasar kesimpulan yang kuat secara klinis.

Menurut American Academy of Pediatrics, manfaat sunat justru lebih besar ketimbang efek sampingnya. Belum ada pula penelitian yang membuktikan secara kuat bahwa sunat dapat mengurangi sensitivitas seksual yang signifikan. Dua penelitian besar pada pria di Afrika tidak menemukan perbedaan kenikmatan seksual antara pria yang disunat dan pria yang tidak disunat. Penelitian besar lainnya yang melibatkan 10.000 pria Jerman juga tidak menemukan adanya perbedaan disfungsi ereksi berdasarkan pada status sunat.

Faktor utama yang menyebabkan gangguan ereksi akibat sunat adalah terpotongnya saraf-saraf perineal pada bagian bawah penis yang bertanggung jawab untuk sebagian besar rangsangan sensorik seksual. Namun, risikonya rendah bila dibandingkan dengan faktor risiko gangguan ereksi lainnya, seperti penuaan, obesitas, diabetes, merokok, dan pola makan yang buruk.

Sekarang ini, prosedur sunat tak hanya menggunakan metode konvensional menggunakan gunting, tapi juga dengan laser atau klamp. Terlepas dari metode yang digunakan, sunat termasuk prosedur bedah minor dan memang ada komplikasi yang menyertainya.

Pada prosedur sunat menggunakan klamp misalnya, penjepit yang digunakan bisa menarik kulup terlalu banyak sehingga menimbulkan cedera pada penis. Hal seperti ini umumnya terjadi karena kesalahan teknis manusia. (RFZ)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY