Berhubungan Suami Istri di Siang Hari saat Bulan Ramadhan

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Salah satu hal yang membatalkan puasa adalah berhubungan intim antara suami dan istri setelah waktu subuh dan sebelum maghrib. Lalu, apakah hanya puasa si pelakunya yang batal jika melakukan hal tersebut? Apakah ada punishment lainnya?

Menurut mayoritas ulama, berhubungan badan (jima’) bagi orang yang berpuasa di siang hari saat bulan Ramadhan (di waktu berpuasa) dengan sengaja dan atas kehendak sendiri (bukan paksaan), maka mengakibatkan puasanya batal. Selain itu, pelakunya wajib menunaikan qadha’ (melakukan puasa di bulan selain bulan Ramadhan), ditambah dengan menunaikan kafarah (denda). Perkara ini berlaku ketika itu keluar mani maupun tidak. Ini berbeda halnya dengan seseorang yang makan dan minum di siang hari Ramadhan, tidak ada kafarah dalam hal itu.

Bentuk kafarah-nya adalah memerdekakan satu orang budak beriman. Jika tidak didapati, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan kepada 60 orang miskin, yaitu sebesar 1 mud.

Sementara itu, bagi orang yang melakukan hubungan seks tersebut dalam keadaan lupa, puasanya tidaklah batal. Inilah pendapat yang dianut dalam madzhab Syafi’i.

Wanita yang diajak hubungan jima’ oleh pasangannya (tanpa dipaksa), puasanya pun batal, tanpa ada perselisihan di antara para ulama mengenai hal ini. Namun, yang nanti jadi perbedaan antara laki-laki dan perempuan apakah keduanya sama-sama dikenai kafarah?

Salah satu pendapat berasal dari ulama Syafi’iyah dan Imam Ahmad yang menyatakan bahwa wanita yang diajak bersetubuh di bulan Ramadhan tidak punya kewajiban kafarah. Jadi, yang menanggung kafarah adalah suami. Alasannya, dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW tidak memerintah wanita yang bersetubuh di siang hari untuk membayar kafarah sebagaimana suaminya. Hal ini menunjukkan bahwa seandainya wanita memiliki kewajiban kafarah, maka Nabi Muhammad SAW tentu akan mewajibkannya dan tidak mendiamkannya. Selain itu, kafarah adalah hak harta. Oleh karena itu, kafarah dibebankan pada laki-laki sebagaimana mahar.

Meski begitu, seorang istri wajib hukumnya menolak permintaan suami untuk melayaninya di siang hari di bulan Ramadhan. Kalau seorang istri melayaninya, maka ia berdosa karena menolong suami berbuat dosa.

Berhubungan intim selama puasa saat Ramadan, terutama saat siang hari, memang sangat dilarang. Tapi, saat malam, yakni setelah berbuka dan sebelum imsak, berhubungan intim bagi pasangan suami- istri diperbolehkan. Di waktu inilah, seorang muslim dan muslimat bisa melepaskan hawa nafsunya.

Saat berpuasa, umat muslim tak hanya diwajibkan untuk menahan hawa nafsu dari makan dan minum. Lebih jauh, umat muslim juga diwajibkan untuk menahan berbagai hawa nafsu lainnya, termasuk hawa nafsu untuk melakukan hubungan intim bersama istri atau suami tercinta. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here