Bullying Merusak Kesehatan Mental

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Dewasa ini, bullying di kalangan anak usia sekolah baik itu SD, SMP, maupun SMA kian sering jadi bahan pemberitaan media. Bullying sendiri bisa diartikan sebagai suatau tindakan agresi yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk menyakiti atau mengganggu orang lain yang lebih lemah darinya. Anak yang pernah menjadi korban bullying menjadi lebih besar kemungkinannya memiliki masalah mental, seperti depresi dan bahkan menjadi anti sosial.

Bullying tak hanya bisa terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, tapi juga dalam bentuk psikologis, seperti mengejek, mengancam, dan mengucilkan seseorang dari pergaulan sosial. Bahkan, seiring dengan kian meningkatnya penggunaan internet di kalangan remaja, bullying kini juga sering terjadi di media sosial (cyber-bullying).

Bullying dalam bentuk apa pun bisa membuat seorang anak menjadi stres dan merasa terancam. Ketika ini terjadi, mekanisme “fight or flight” akan mulai bekerja dan menyebabkan tegang otot, detak jantung tak teratur, dan terjadi pula pelepasan adrenalin dan kortisol. Jika reaksi ini terjadi terus menerus, kinerja sistem kekebalan tubuh akan menurun sehingga anak menjadi mudah sakit. Tak hanya gangguan kesehatan secara fisik, tapi juga gangguan kesehatan mental yang bisa terbawa hingga remaja tersebut dewasa.

Sejumlah penelitian melaporkan bahwa anak atau remaja yang pernah menjadi korban bullying menjadi lebih berisiko mengalami depresi dan membutuhkan perawatan psikiater ketika dewasa. Bahkan, bullying juga dilaporkan ada keterkaitan dengan bunuh diri. Hubungan ini bersifat tidak langsung. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa bullying dapat menyebabkan depresi dan luka psikis yang begitu mendalam. Kondisi mental yang buruk akibat bullying inilah yang bisa menyebabkan seorang anak korban bullying sampai berkeinginan untuk bunuh diri.

Dampak bullying ini ternyata tak hanya buruk bagi korban, tapi juga bagi pelaku dan anak lain yang menyaksikan tindakan bullying. Pelaku bullying yang tidak diberi penanganan juga diyakini akan cenderung terlibat dalam perilaku berisiko di masa dewasanya. Mereka menjadi rentan putus sekolah, menggunakan narkoba, melakukan aktivitas seksual terlalu dini, dan terlibat perkelahian yang bisa memicunya melakukan tindakan kriminal yang membahayakan orang lain. Selain itu, anak yang menjadi saksi tindakan bullying juga menjadi lebih berisiko mengalami depresi dan kecemasan.

Melihat begitu seriusnya dampak bullying ini, maka perlu diperlukan perhatian dan kerja sama antara orangtua dan pihak sekolah. Anak yang menjadi korban bullying terkadang takut mengatakan apa yang dialaminya kepada orang lain dan cenderung berubah menjadi pendiam. Oleh karenanya, orangtua harus jeli dalam mencermati perubahan tingkah laku atau kebiasaan anak. (RFZ)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here