Cairan Vagina Berbau Di Masa Kehamilan

SehatFresh.com – Keluarnya cairan vagina berlebih adalah keluhan umum selama kehamilan. Ini merupakan akibat dari fluktuasi hormon dan meningkatnya sirkulasi darah di daerah vagina. Keluarnya cairan vagian berlebih wajar terjadi selama kehamilan tanpa perlu dikhawatirkan. Namun, ibu hamil perlu segera pergi ke dokter jika cairan yang keluar menjadi lebih bau, berwarna kekuningan atau kehijauan, atau jika daerah vagina menjadi gatal atau iritasi. Gejala-gejala tersebut kemungkinan besar mengindikasikan infeksi vagina dan memerlukan pengobatan.

Ada dua jenis infeksi vagina yang gejala umumnya ditandai dengan cairan vagian berbau, yaitu bacterial vaginosis (BV) dan infeksi jamur. BV terjadi ketika bakteri normal dalam vagina tumbuh tidak seimbang. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), BV adalah infeksi vagina yang paling umum pada wanita usia subur, yang gejalanya ditandai dengan keluarnya cairan vagina berlebih, berbau amis, serta rasa sakit, gatal-gatal atau terasa panas selama buang air kecil.

Selain itu, wanita hamil juga sangat rentan terhadap infeksi jamur. Mirip dengan BV, infeksi jamur juga umum selama kehamilan. Kondisi ini disebabkan oleh pertumbuhan berlebih dari jamur candida albicans, dan dokter sering menyebut kondisi ini dengan istilah “kandidiasis”. Gejala ditandai dengan keluarnya cairan vagina berwarna kekuningan dengan jamur dan berbau tidak sedap, serta gatal dan iritasi pada vagina.

BV dan infeksi jamur umumnya dapat dikenali secara umum dari gejalanya. Namun, Blue Cross Blue Shield of Massachusetts mengatakan penyedia layanan kesehatan harus mengkonfirmasi diagnosis dengan menganalisis cairan vagina. Tes laboratorium pada sampel cairan vagina diperlukan untuk mencari bakteri penyebabnya. Berdasarkan jenis bakteri yang ditemukan, maka diagnosis dibuat.

Jika tidak diobati, bakteri BV dapat menyebar serta menginfeksi rahim dan tuba falopi, sehingga berpotensi menyebabkan penyakit radang panggul. Terlebih, riwayat penyakit radang panggul adalah salah satu faktor risiko kehamilan ektopik pada trimester pertama. Wanita hamil dengan BV juga lebih berisiko melahirkan bayi prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah. Terkait infeksi jamur, Blue Cross Blue Shield of Massachusetts melaporkan bahwa kondisi ini tidak menimbulkan ancaman besar bagi kesehatan janin. Namun, bayi yang dilahirkan dari ibu dengan infeksi jamur yang tidak diobati berisiko mengembangkan kandidiasis mulut. Kabar baiknya, ini tidak menimbulkan komplikasi serius dan mudah diobati.

Pengobatan BV sangat penting selama kehamilan. CDC merekomendasikan memeriksa dan mengobati wanita dengan riwayat persalinan prematur atau pernah melahirkan bayi berat lahir rendah, terlepas dari gejalanya. Untuk infeksi jamur, diperlukan pengobatan obat antijamur hingga tuntas. Kondisi ini umumnya dapat diobati dengan obat antijamur yang dijual bebas.

Untuk pencegahan terjadinya infeksi, American Pregnancy menganjurkan agar wanita hamil menghindari mandi busa, pemakaian sabun kewanitaan, tampon dan douching, karena ini dapat mengganggu keseimbangan bakteri vagina selama kehamilan. Selain itu, menjaga daerah vagina tetap kering dan bersih juga sangat penting untuk diperhatikan untuk menjaga keseimbangan pH vagina agar pertumbuhan bakteri tetap terjaga.

Sumber gambar : dewikurniase.wordpress.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY