Cara Berkomunikasi Efektif dengan Remaja Penyendiri

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Orangtua harus punya banyak trik dan kesabaran ekstra saat mengasuh anaknya yang beranjak remaja. Maklum, anak-anak usia tersebut sedang berada di masa puber. Hormon pertumbuhan membuat anak jadi sangat berbeda. Jangan kaget jika anak jadi sangat memberontak. Ia pun lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan enggan berbicara dengan ayah dan ibunya.

Membuka pembicaraan dengan anak remaja juga perlu trik tersendiri. Kuncinya adalah jangan langsung menghakimi, marah-marah atau langsung merespons negatif. Orangtua bisa memulai dengan bertanya hal yang disukai, misalnya grup musik favorit atau kabar temannya di sekolah.

Saat ia mulai berbicara, pancinglah dengan pertanyaan yang hangat. Ingin tahu, tapi tak seperti detektif. Jangan memberi saran jika dia tak meminta atau bisa tanyakan dulu, kamu mau tahu gak kalau mama jadi kamu bakal bagaimana. Cara ini membuat mereka merasa dihargai.

Lalu, bagaimana jika anak remaja sedang tak ingin berkomunikasi sama sekali. Pulang sekolah ia langsung menyendiri di kamar dan keluar hanya untuk mandi dan makan. Saat Anda mengajaknya berbicara, ia pun langsung menghindar.

Banyak hal yang membuat anak remaja bersikap demikian, bisa jadi karena kelelahan, memiliki masalah yang tak ingin diketahui orang lain atau merasa ayah dan ibunya sedang tak asyik. Jangan terlalu terbawa perasaan, Anda hanya perlu memberikannya waktu untuk sendiri.

Anda bisa menggenggam tangan, memeluk atau membawakan minuman hangat sebelum tidur. Tak perlu banyak bicara, tapi anak tahu, ayah dan ibunya akan selalu ada untuknya. Komunikasi bisa dilakukan dengan banyak hal, termasuk dengan bahasa tubuh.

Satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian adalah si anak menjadi korban bullying. Bullying di sekolah atau lingkungan sekitar dapat berakibat serius pada perkembangan mental anak. Anak pendiam yang diolok-olok teman-temannya, tidak dapat membalas, dan bisa menjadi takut serta menolak untuk sekolah.

Jika ini dialami anak Anda, ajarkan dan latih anak Anda agar menjadi dirinya sendiri. Alihkan bullying ke kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti sering mengajak anak pada kegiatan luar rumah atau melakukan hal yang sama dengan kesukaan anak.

Selain itu, jadilah pendengar yang baik karena anak remaja perlu tempat berkeluh kesah. Cukup dengan manfaat mendengarkan keluhan anak, maka anak akan merasa lebih nyaman dan bisa sebagai cara membuat anak lebih terbuka kepada orangtua. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here