Cara Deteksi Depresi pada Remaja dan Ketahui Penyebabnya

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Bagaimana mendeteksi depresi pada remaja? Ketika remaja mengalami depresi, remaja akan kehilangan motivasi dan semangat dalam melakukan aktivitas sehari-hari, bahkan terhadap apa yang dia sukai. Mereka juga akan menyendiri, mengurung diri di kamar selama beberapa waktu untuk menenangkan pikiran dan perasaan.

Remaja yang mengalami depresi juga akan kehilangan nafsu makan, kesulitan tidur, kesulitan konsentrasi, kesulitan mengingat, apatis, merasa sedih, cemas, putus asa, cenderung melakukan hal negatif bahkan memiliki keinginan untuk bunuh diri. Remaja depresi bisa dikarenakan oleh banyak hal karena masa-masa remaja sendiri pun adalah masa yang sulit dan penuh pergolakan. Penyebab depresi yang paling umum terjadi pada anak remaja yaitu sebagai berikut:

  1. Faktor Biologis

Selain faktor genetik, faktor biologis pun mampu menjadi penyebab seorang remaja mengalami depresi dengan mudah. Terjadinya depresi karena faktor biologis adalah ketika neurotransmitter yang kita ketahui sebagai bahan kimia pada otak mengalami gangguan. Gangguan tersebutlah yang bisa menjadikan fungsi otak tak bekerja maksimal dan akhirnya memudahkan depresi meningkat.

  1. Faktor Genetik

Depresi pada anak remaja kemungkinan berasal dari pengaruh faktor keturunan, yakni ketika ada salah satu anggota keluarga yang memang memiliki riwayat penyakit depresi, anak pun bisa saja mengalami hal yang sama walau memang faktor ini tak selalu pasti demikian.

  1. Perasaan Kehilangan

Depresi pada anak remaja paling umum juga disebabkan oleh perasaan kehilangan. Perasaan kehilangan di sini bisa berupa apapun yang kemudian mampu menjadi pemicu rasa putus asa yang begitu hebat pada seorang remaja.

  1. Kurang Percaya Diri

Penampilan adalah faktor utama yang kini menjadi banyak faktor dibalik pem-bully-an di sekolah-sekolah. Tak mudah bagi beberapa orang remaja untuk bisa beradaptasi ketika teman-teman di lingkungannya jauh lebih baik daripada dia. Penampilan maupun prestasi dan kemampuan tertentu bisa menjadi hal yang memicu seorang remaja depresi, apalagi kalau ia memiliki tingkat kepercayaan diri rendah.

  1. Perceraian Orang Tua

Orang tua merupakan pemegang peranan penting dalam perkembangan kepribadian anak, dan saat orang tua berpisah, hal ini mau tak mau memengaruhi kondisi emosional dan mental sang anak. Sedih, tertekan, dan trauma merupakan contoh perasaan yang dialami oleh seorang anak remaja ketika orang tua bercerai. Konseling adalah suatu solusi yang baik agar anak dapat menghadapi perpisahan dengan lebih baik. Pembicaraan dari hati ke hati antara anak dan orang tua sangatlah penting dalam hal ini. Mengetahui bahwa orang tua mereka masih akan memberikan perhatian yang sama kepada mereka juga merupakan hal yang berarti.

  1. Tekanan dalam Pendidikan

Setiap remaja pasti memiliki masalah dalam pendidikan. Stres karena mereka harus belajar dengan baik serta peraturan ketat dari orang tua dapat menumpuk dan beralih menjadi sebuah keadaan depresi. Tekanan dalam pendidikan sangat banyak dan masalah umum ini bila tak diatasi dapat benar-benar menekan sang remaja maka mencari cara menghilangkan stres belajar juga penting.

  1. Trauma Pelecehan Fisik atau Emosional

Trauma merupakan hal yang mampu menjadikan seorang remaja mudah depresi, terutama bila sebelumnya pernah mengalami pelecehan emosional maupun fisik. Pelecehan seksual atau bahkan pembullyan adalah hal-hal yang berperan besar dalam menimbulkan rasa tak diinginkan serta depresi yang menumpuk.

  1. Ketidakseimbangan Senyawa Kimia Tubuh

Para pakar kesehatan mental memperkirakan bahwa ketidakseimbangan senyawa kimia dalam tubuh yang dialami oleh beberapa remaja juga menimbulkan depresi. Hal ini terjadi saat timbulnya peristiwa traumatis yang memicu perubahan kondisi kimiawi otak. Depresi juga dapat diwarisi oleh orang tua, hal ini menyebabkan sang anak juga mengalami hal ini. Beberapa orang tua mungkin membandingkan kehidupannya dengan sang anak. Mereka bisa saja merasa kehidupannya lebih berat dari sang anak. Namun, kenyataanya kondisi saat ini tidaklah sama dengan masa lalu. Tekanan dan persaingan hidup harus dihadapi oleh remaja masa kini dan tentu akan meningkatkan kadar stres dalam otak mereka. Dengan begitu Anda dapat memahami penyebab depresi pada remaja. (KKM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here