Cara Memprediksi Bayi Tertular HIV Menggunakan Metode Sistem Skoring Faktor Ibu, Bayi Dan Persalinan


SehatFresh.com #DokterTalk – Angka kejadian infeksi HIV pada anak di dunia masih tinggi. Indonesia merupakan negara di Asia yang terpesat peningkatan jumlah kasus HIV/AIDSnya. Sebagian besar infeksi HIV pada anak ditularkan selama masa dalam kandungan, saat persalinan dan sesudah bayi dilahirkan. Penularan dapat terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko pada ibu, bayi dan persalinan.

Upaya untuk mencegah penularan ke bayi dari ibu hamil HIV positif di dunia adalah dengan melakukan program prevention mother to child transmission (PMTCT) atau di Indonesia dikenal dengan nama Pencegahan penularan dari ibu ke anak (PPIA). Badan kesehatan dunia (WHO) telah melakukan program PMTCT, antara lain dengan pemberian obat antiretroviral (ARV) selama masa ibu hamil, bersalin dan bayi baru lahir hingga usia 6 minggu. Penggunaan ARV tersebut telah dapat menurunkan angka penularan dari ibu ke anak hingga 1-2%.

Setelah melakukan pencegahan dengan terapi ARV, perlu segera menentukan status bayi tertular HIV atau tidak dari ibu HIV positif dengan melakukan pemeriksaan PCR RNA HIV. Pemeriksaan mulai dilakukan pada saat bayi berusia 4-6 minggu. Pemeriksaan PCR masih sulit dilakukan karena terbatasnya alat yang disediakan di setiap layanan PPIA. Selain itu kurang tenaga ahli untuk melakukan pemeriksaan PCR dan biaya masih mahal. Keterlambatan penentuan status tertular HIV pada bayi akan meningkatkan angka kesakitan dan bahkan kematian pada bayi yang tertular.

Dalam acara promosi Doktor dalam Ilmu Kedokteran di Universitas Indonesia di Jakarta (28/1/16), dr. Debbie Latupeirissa, SpA(K) melaporkan sebuah penelitian yang bertujuan untuk menemukan model prediksi risiko bayi tertular HIV pada bayi baru lahir yang dibuat dari faktor risiko pada ibu, bayi dan persalinan. “Model prediksi yang ditemukan diharapkan dapat digunakan pada daerah-daerah dengan sumber terbatas untuk prediksi risiko bayi tertular HIV sehingga bayi dengan risiko tinggi dapat diamati kondisinya lebih ketat lagi atau dirujuk pada daerah yang memiliki fasilitas pemeriksaan PCR,” kata dr. Debbie.

Penelitian ini menemukan model yang efektif dan praktis untuk penggunaan di daerah dengan sumber terbatas. Model prediksi yang ditemukan tersebut terdiri dari factor risiko ARV pada ibu, adanya infeksi tuberculosis paru pada ibu, atau cara persalinan yang dilakukan.  “Pemberian ARV pada ibu sangat berperan sekali untuk mencegah penularan HIV pada bayi. Adanya infeksi tuberculosis paru pada ibu dan cara persalinan spontan juga ikut meningkatkan penularan pada bayi. Oleh karena itu penting juga untuk mencari ada tidaknya infeksi selain HIV pada ibu, dan menentukan cara persalinan yang terbaik pada ibu hamil HIV positif,” kata dr Debie yang juga berpraktek di RSUP Fatmawati Jakarta.

Apabila model prediksi ini sudah digunakan menyeluruh bersama dengan program PPIA lainnya, maka diharapkan pihak Pengelola HIV/AIDS di Indonesia dapat menurunkan angka penularan dari ibu ke anak. Selain itu menggunakan model prediksi ini, dapat diketahui angka kejadian bayi tertular HIV di Indonesia.

Oleh : dr. Debbie Latupeirissa, SpA(K)

Sumber gambar : adellesya.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY