Cara Mendeteksi Dini dan Penanganan Retensio Plasenta

0
13
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Retensio plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi (Rukiyah, A.Y, 2009: 146). Kondisi ini dapat disebabkan oleh plasenta yang melekat sangat kuat di dinding rahim.

Retensio plasenta bukanlah suatu kondisi yang bisa diantisipasi atau dicegah. Namun, deteksi lebih dini bisa membantu mempermudah penanganan di kemudian hari. Oleh sebab itu, bagi ibu hamil sebaiknya melakukan kontrol kehamilan secara teratur ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Disarankan, pemeriksaan kehamilan dilakukan dengan intensitas sebagai berikut:

  • 1 bulan sekali pada usia kehamilan 0 hingga 6 bulan
  • 2 minggu sekali pada usia kehamilan 7 hingga 8 bulan
  • 1 minggu sekali pada usia kehamilan 9 bulan

Bagaimana bila sudah terlanjur terjadi retensio plasenta? Penanganan retensio plasenta secara umum diakukan jika plasenta terlihat dalam vagina. Pasien akan diminta untuk mengedan. Jika tim dokter dapat merasakan plasenta dalam vagina, maka plasenta akan dikeluarkan. Jika diperlukan, dilakukan keteterisasi kandung kemih. Bila plasenta belum keluar, maka tim dokter akan memberikan oksitosin. Dalam titik tertentu, ergometrin tidak diberikan karena dapat menyebabkan kontraksi uterus yang bisa memperlambat pengeluaran plasenta.

Secara umum, tahapan tindakan penanganan retensio plasenta adalah sebagai berikut:

  • Tim dokter mencoba 1-2 kali dengan perasat Crede.
  • Mengeluarkan plasenta dengan tangan (manual plasenta).
  • Memberikan transfusi darah bila pendarahan banyak.
  • Memberikan obat-obatan, misalnya uterotonika dan antibiotik.

Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit, maka dilakukan penarikan tali pusat terkendali. Jika traksi pusat terkendali belum berhasil, pengeluaran plasenta dilakukan secara manual dengan tahapan sebagai berikut:

  • Pasang sarung tangan DTT.
  • Memasang infus cairan dekstrose 5%.
  • Lakukan kateterisasi kandung kemih.
  • Pastikan kateter masuk ke dalam kandung kemih dengan benar.
  • Cabut kateter setelah kandung kemih dikosongkan.
  • Jepit tali pusat dengan koher, kemudian tegangkan tali pusat sejajar dengan lantai.
  • Secara obstetrik, masukkan satu tangan (punggung tangan ke bawah) ke dalam vagina dengan menelusuri tali pusat bagian bawah.
  • Setelah tangan mencapai pembukaan serviks, dokter bisa meminta asisten untuk memegang koher. Lalu, tangan lain penolong menahan fundus uteri.
  • Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan ke dalam kavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta.
  • Buka tangan obstetri menjadi seperti memberi salam (ibu jari merapat ke pangkal jari telunjuk).
  • Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah.
  • Lakukan eksplorasi apakah ada luka-luka atau sisa-sisa plasenta dan

Hal yang perlu diperhatikan, manual plasenta berbahaya karena dapat terjadi robekan jalan lahir (uterus) dan membawa infeksi. (SBA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY