Cara Mendiagnosis dan Mengobati Difteri pada Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Difteri merupakan wabah penyakit yang baru-baru ini menggemparkan beberapa daerah di Indonesa, pasalnya banyak kejadian atau kasus yang dilaporkan bahwa anak-anak terserang suatu penyakit yang dinamakan dengan difteri. Di Indonesia sendiri sudah menerapkan sistem pencegahan difteri dengan adanya program imunisasi dari pemerintah, namun apa daya karena kasus difteri masih tetap ada di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui bahwa difteri khususnya menyerang saluran pernapasan, maka penyebarannya bisa melalui udara yang terkontaminasi bakteri penyebab difteri melalui bersin atau batuk dari penderita. Anak-anak adalah usia yang paling rentan untuk tertular bakteri penyebab difteri. Bakteri penyebab difteri akan mengeluarkan toksin (racun) yang menyebabkan sel-sel di dalam tenggorokan mati, akhirnya terbentuk seperti lendir berwarna abu-abu di dalam tengorokan.

Dari area perkembangbiakan bakteri difteri di dalam tenggorokan, maka akan muncul tanda-tanda dan gejala-gejala yang khas. Tanda dan gejala yang khas tersebut biasanya dijadikan oleh dokter untuk mendiagnosa apakah seorang anak benar-benar positif terinfeksi bakteri penyebab difteri.

Cara-cara yang dilakukan untuk dapat menerka atau mendiagnosis difteri bisa dilakukan dengan dua cara yakni pemeriksaan fisik dan uji laboratorium dengan mengambil sampel jaringan yang dirasa terdapat tanda-tanda adanya infeksi.

Pada pemeriksaan fisik, yang dilakukan adalah menanyakan pada anak tentang gejala-gejala yang dirasa mengganggu di area sekitar leher, mengobservasi tanda-tanda adanya infeksi pada tenggorokan, apakah ada lendir berwarna abu-abu di dalam tenggorokan, atau bisa juga memeriksa kelenjar getah bening yang membengkak. Dan cara yang kedua yakni dengan mengambil sampel lendir dari tenggorokan, hidung, dan bisul untuk diperiksa di laboratorium, dan hasilnya akan diketahui apakah ada bakteri penyebab difteri di dalamnya atau tidak. Dengan melakukan kedua pemeriksaan tersebut, maka difteri dapat terdeteksi dengan mudah.

Seorang anak yang diduga telah tertular difteri, maka harus cepat diberikan penanganan lebih lanjut di rumah sakit yang bertujuan untuk mencegah adanya komplikasi. Untuk mengobati difteri apabila seorang anak telah dinyatakan positif terinfeksi, maka dokter biasanya memberikan saran sebagai berikut.

  1. Pemberian Antibiotik

Obat-obatan golongan antibiotik ditujukan untuk mencegah berkembangnya bakteri di dalam tenggorokan dan berguna untuk menyembuhkan infkeksi atau radang. Pemberian antibiotik biasanya berlangsung sekitar dua minggu, setelah itu anak harus melakukan uji sampel lendir kembali untuk memastikan apakah masih ada bakterinya atau tidak. Jika hasilnya masih ada, maka pemberian antibiotik dilanjutkan kembali selama 10 hari.

  1. Pemberian Antitoksin

Toksin yang dikeluarkan oleh bakteri harusnya diberikan obat penghilangnya yakni dengan antitoksin. Pengobatan ditujukan untuk menetralkan racun atau toksin yang menyebar di dalam tubuh anak. Namun, pemberian antitoksin biasanya disesuaikan dengan kondisi anak.

  1. Pengangkatan lendir abu-abu

Metode ini dilakukan jika anak sudah mengalami kesulitan bernapas. Untuk bisa memudahkan anak bernapas, maka selaput lendir yang menutupi saluran pernapasan harus dibuang dengan prosedur pengangkatan membran abu-abu tersebut. (SPT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here