Cara Mengobati Terjangkit Penyakit Leptospirosis

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Angka penderita leptospirosis di Indonesia memang masih tergolong kecil. Namun, jangan sepelekan penyakit satu ini. Jika tak ditangani dengan cepat, penderitanya bisa kehilangan nyawa.

Bakteri leptospira dikenal sebagai bakteri penyakit leptospirosis. Bakteri ini bisa menyebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi. Sejumlah hewan yang bisa menjadi pembawa bakteri tersebut antara lain anjing, tikus, sapi, dan babi. Penanganan sesegera mungkin sangat ditekankan bagi penderita penyakit leptospirosis untuk menghindari dampak yang lebih fatal.

Terduga penderita penyakit leptospirosis harus didiagnosis terlebih dahulu untuk memastikan gejala leptospirosis. Diagnosis ini mencakup pemeriksaan riwayat dan fisik pasien.

Selain itu, pemeriksaan laboratorium biasanya dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis dan menentukan derajat kerusakan organ serta keparahan komplikasi. Pemeriksaan darah dan urine untuk mengisolasi bakteri dari cairan tubuh penderita sulit dilakukan. Oleh karena itu, tes serologi mungkin akan dilakukan untuk membantu mengonfirmasi diagnosis.

Jika terduga pasien positif terjangkit leptospirosis, maka pengobatan utama pada penyakit ini adalah pemberian antibiotik. Antibiotik yang paling sering digunakan adalah penisilin.

Antibiotik biasanya diberikan selama satu minggu dan proses pengobatan ini harus diikuti hingga akhir demi memastikan semua bakteri hilang sehingga mencegah kemungkinan terulangnya infeksi dari bakteri yang sama. Walau demikian, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan efektivitas terapi antibotik terhadap leptospirosis.

Selain antibiotik, berbagai obat-obatan penghilang rasa sakit, seperti parasetamol, mungkin juga dibutuhkan untuk menangani gejala awal penyakit ini. Obat pereda rasa sakit tersebut biasanya digunakan untuk menghilangkan gejala sakit kepala, nyeri otot, dan demam.

Pada kasus leptospirosis yang parah (sindrom Weil) atau pada ibu hamil, pasien dapat dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan pengawasan yang lebih mendalam. Hal ini dilakukan untuk mencegah leptospirosis menyebar ke organ lain atau janin.

Jika infeksi telah menyerang organ tubuh, maka beberapa perawatan tambahan diperlukan. Perawawatan tambahan ini bermanfaat untuk menjaga sekaligus mengembalikan fungsi dan kondisi tubuh. Sejumlah perawatan tambahan itu antara lain:

  • Ventilator. Sebagai alat bantu pernapasan.
  • Infus. Untuk memasukkan cairan dan nutrisi tambahan yang dibutuhkan tubuh.
  • Dialisis. Membantu fungsi ginjal yang terganggu dalam proses pembuangan zat yang tidak dibutuhkan tubuh.

Hal lain yang perlu diperhatikan terkait leptospirosis adalah komplikasi. Komplikasi serius pada paru-paru yang disebut severe pulmonary hemorrhagic syndrome, misalnya, merupakan penyebab kematian utama penderita leptospirosis di negara-negara berkembang. Tak hanya itu, gagal ginjal akut dan disfungsi hati merupakan komplikasi lain yang dapat timbul.

Jadi, tak heran bila perawatan di rumah sakit terhadap pasien leptospirosis bisa memerlukan waktu beberapa minggu hingga bulan. Waktu perawatan tergantung dari tingkat keparahan leptospirosis, kondisi tubuh, dan respon pasien terhadap pengobatan. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here