Ciri-Ciri Anak Autis

SehatFresh.com – Kasus autisme saat ini semakin banyak ditemui di Indonesia. Saat ini penyakit autis sudah dapat dideteksi sejak usia dini. Meski demikian, pengetahuan awam mengenai autis dan bagaimana menanganinya masih belum banyak diketahui masyarakat. Autisme sendiri adalah suatu gangguan yang ditandai oleh melemahnya kemampuan bersosialisasi, bertingkah laku, dan berbicara. Autisme sering disebut dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD). untuk mengetahui apakah anak Anda mengidap autis, maka penting untuk mengetahui mulai dari gejala, tindakan kuratif (penyembuhan) hingga tindakan preventif (pencegahan), serta makanan apa yang baik dan tidak baik dikonsumsi oleh penderita autisme.

Penyebab dari autisme itu sendiri masih belum diketahui secara pastu. Sampai saat ini, sebagian besar peneliti percaya bahwa autisme disebabkan oleh faktor genetik. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor lingkungan juga menjadi penyebab autisme. Lingkungan dalam konteks ini adalah apa saja yang ada di luar tubuh, tidak terbatas pada polusi atau racun di atmosfer. Salah satu faktor lingkungan yang mungkin menyebabkan autisme adalah faktor prenatal seperti kurang nutrisi atau konsumsi obat-obatan tertentu selama kehamilan.

Menurut National Institute of Mental Health, autisme merupakan gangguan perkembangan pada anak yang terjadi pada sekitar 3,4% dari 1000 anak berusia antara 3 sampai 10 tahun. Autisme memengaruhi fungsi sosial, intelektual dan motorik, serta ketidakmampuan menggunakan indra sensorik secara efektif yang berpengaruh pada perilaku secara keseluruhan. Autisme umumnya didiagnosis setelah dokter mengamati perilaku dan perkembangan anak. Namun, ada beberapa indikator yang menunujukkan autisme pada anak, diantaranya:

Gangguan kemampuan sosial
Autisme erat kaitannya dengan gangguan kemampuan sosial di mana penderitanya berinteraksi secara berbeda dengan orang pada umumnya. Pada gejala ringan, ciri-ciri autisme yang muncul adalah anak terlihat canggung saat berhubungan dengan orang lain, mengeluarkan komentar yang menyinggung orang lain, dan tampak terasing saat berkumpul bersama orang lain. Penyandang autis dengan tingkat gejala autis yang parah biasanya tidak suka berinteraksi dengan orang lain serta cenderung menghindari kontak mata. Sebagian anak penyandang autisme tidak menyukai jika mereka disentuh atau dipeluk. Namun, tidak semua menunjukkan gejala yang sama. Sebagian anak dengan autisme sering dan senang memeluk mereka yang dekat dengannya.

Gangguan bicara
Ciri-ciri autisme bisa dideteksi dengan mengetahui kemampuan bicara pada anak. Perkembangan pola bicara yang kurang serta keterampilan penggunaan bahasa yang minim menjadikan anak autisme kurang mampu melakukan interaksi sosial. Sekitar 40% dari anak-anak dengan autisme tidak dapat berbicara atau hanya dapat mengucapkan beberapa kata saja. Sekitar 25-30% dapat mengucapkan beberapa kata pada usia 12-18 bulan, namun sesudahnya kehilangan kemampuan berbicara. Intonasi anak penyandang autisme saat berbicara biasanya cenderung datar dan bersifat formal. Mereka juga cenderung mengulang kata atau frase tertentu, atau dikenal sebagai echolalia.

Kesulitan berempati
Sangat sulit bagi anak penyandang autisme untuk memahami perasaan orang lain, sehingga mereka jarang berempati terhadap orang lain. Mereka juga cenderung sulit mengenali dan memahami bahasa tubuh atau intonasi bicara. Saat berbicara dengan orang lain, komunikasi cenderung bersifat satu arah karena mereka lebih banyak membicarakan dirinya sendiri. Kabar baiknya, kemampuan berempati ini dapat dilatih dan ditingkatkan jika mereka rutin diingatkan untuk belajar mempertimbangkan perasaan orang lain.

Pola perilaku berulang
Anak autis cenderung melakukan rutinitas yang repetitif atau senang melakukan gerakan tubuh yang berulang seperti mengelilingi benda tertentu, berjalan, menjentikkan jari, resistensi terhadap perubahan hal rutin, sensitivitas tinggi terhadap rangsangan sensorik seperti sentuhan, suara, rasa, atau cahaya. Adanya perubahan pada rutinitas sehari-hari akan terasa sangat mengganggu bagi mereka. Tindakan yang berulang ini dapat bervariasi dan dikenal sebagai stimulating activities dan biasanya menjadi suatu obsesi tersendiri bagi penderita autisme.

Perkembangan tidak seimbang
Perkembangan pada anak-anak autis cenderung tidak seimbang: perkembangan di satu bidang terjadi dengan cepat namun terhambat di bidang lainnya. Sebagai contoh, perkembangan kemampuan kognitif terjadi dengan pesat namun kemampuan bicara masih terhambat atau perkembangan kemampuan bicara terjadi dengan pesat namun kemampuan motorik masih terhambat.

Sumber gambar : health.liputan6.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY