Ciri-ciri Down Syndrome Pada Anak

www.huffingtonpost.co.uk

SehatFresh.com – Down syndrome adalah kelainan kromosom genetik dan penyebab ketidakmampuan belajar yang paling umum pada anak-anak. Sel manusia memiliki 23 pasang kromosom. Satu kromosom di setiap pasangan berasal dari ayah, dan yang lainnya berasal dari ibu. Down syndrome merupakan akibat terjadinya pembelahan sel abnormal yang melibatkan kromosom 21. Kelainan pembelahan sel ini menghasilkan bahan genetik tambahan dari kromosom 21, yang bertanggung jawab untuk fitur karakteristik dan masalah perkembangan pada penderita Down syndrome. Saat lahir, bayi dengan Down syndrome biasanya memiliki tanda-tanda karakteristik tertentu.

Karakteristik fisik

Terdapat sejumlah ciri-ciri fisik yang sering dijumpai pada anak-anak dengan Down syndrome. Namun, karakteristik dari orang tua dan keluarga juga berperan dalam penampilan fisik mereka sehingga penyandang Down Syndrome tidak semua terlihat sama. Secara umum, ciri-ciri fisik Down syndrome pada anak, meliputi:

  • Berat dan panjang saat lahir kurang atau di bawah rata-rata
  • Kurangnya kekencangan otot sehingga terlihat terkulai (hipotonia)
  • Hidung kecil dan tulang hidung datar
  • Mulut kecil dan lidah yang menonjol
  • Mata yang miring ke atas dan ke luar
  • Jarak yang lebar antara jempol dan jari-jari kaki lainnya (sandal gap)
  • Tangan dan kaki kecil dengan jari-jari yang relatif pendek
  • Telinga kecil atau bentuknya tidak biasa
  • Bayi yang dilahirkan dengan Down syndrome hampir semuanya mempunyai simian line, yaitu hanya terdapat satu garis pada telapak tangannya.

Keterlambatan perkembangan

Tingkat ketidakmampuan belajar dan hambatan pertumbuhan tidak selalu sama pada setiap anak penyandang Down syndrome. Secara umum, anak dengan Down syndrome cenderung lebih lambat dalam belajar keterampilan seperti meraih benda, duduk, berdiri, berjalan, dan berbicara. Namun, anak-anak dengan Down syndrome masih bisa tumbuh normal secara kognitif dan sosial, hanya saja prosesnya membutuhkan waktu lebih lama daripada anak lain seusianya. Di sisi lain, anak dengan Down syndrome juga mungkin mengalami kesulitan tambahan seperti gangguan spektrum autisme atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Karena masalah ini, maka anak-anak dengan Down syndrome membutuhkan dukungan ekstra saat mereka tumbuh dewasa dan mereka juga membutuhkan bantuan tambahan saat di sekolah.

Selain karakteristik di atas, ada sejumlah kondisi yang lebih sering terjadi pada penyandang Down syndrome. Ini termasuk masalah dengan jantung dan usus, kesulitan dengan pendengaran dan penglihatan. Sekitar separuh anak-anak dengan sindrom Down dilahirkan dengan beberapa jenis cacat jantung. Masalah jantung ini dapat mengancam jiwa dan mungkin memerlukan operasi pada awal masa bayi.

Menurut Mayo Clinic, masa hidup bagi penyandang Down syndrome telah mengalami peningkatan. Pada tahun 1910, seorang bayi yang lahir dengan Down syndrome banyak yang tidak dapat hidup sampai usia 10 tahun. Saat ini, seseorang dengan Down syndrome dapat hidup sampai usia 60 tahun atau lebih, tergantung pada tingkat keparahan dari kondisi yang mereka miliki.

Intervensi dini dapat membuat perbedaan besar dalam mewujudkan potensi dan kualitas hidup anak penyandang Down syndrome. Pada dasarnya, yang paling berperan dalam penyembuhan anak dengan Down syndrome adalah perilaku orangtua. Orangtua harus bisa menerima dengan lapang dada dan jangan putus asa atas kondisi yang dimiliki anaknya. Orangtua harus aktif mencari informasi tentang Down syndrome. serta aktif berhubungan dengan kelompok anak Down syndrome agar anak dapat bersosialisasi dengan penyandang Down syndrome lainnya. Jangan sampai orangtua malu karena anaknya divonis Down syndrome, sehingga anak disembunyikan atau dilindungi secara berlebihan. Orangtua seharusnya menciptakan suasana kondusif sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY