Ciri-ciri Kehamilan dengan Plasenta Previa

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Plasenta adalah organ yang berkembang di dalam rahim selama kehamilan. Fungsinya antara lain untuk memasok oksigen dan nutrisi ke janin dan membuang zat-zat buangan dari darah janin. Selama kehamilan, plasenta bergerak seiring dengan rahim yang terus bertumbuh. Hal ini bisa membuat posisi plasenta berada di bagian bawah rahim di awal kehamilan. Seiring dengan usia kehamilan yang semakin bertambah, plasenta biasanya bergerak ke atas rahim. Pada trimester ketiga, posisi plasenta seharusnya dekat bagian atas rahim guna memungkinkan leher rahim terbuka untuk persalinan. Namun, terkadang plasenta tetap berada di bawah rahim menutupi sebagian atau seluruh serviks selama bulan-bulan terakhir kehamilan. Kondisi ini disebut plasenta previa.

Jika Anda memiliki plasenta previa, ketika leher rahim mulai membuka dan melebar saat akan melahirkan, pembuluh darah yang menghubungkan plasenta ke rahim bisa robek. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pendarahan hebat selama proses persalinan, dan menempatkan ibu dan bayi dalam bahaya. Ibu hamil dengan plasenta previa pun lebih berisiko mengalami pendarahan sebelum kelahiran. Terkadang, plasenta previa juga disertai kelainan posisi janin dalam rahim, seperti posisi sungsang.

Dengan demikian, plasenta previa ini tidak boleh dianggap remeh. Gejala utamanya adalah pendarahan yang umumnya tanpa disertai rasa sakit. Namun, tidak semua wanita yang memiliki plasenta previa mengalami pendarahan. Dalam kebanyakan kasus, pendarahan terjadi pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu, dan derajatnya bisa berat atau ringan. Pendarahan umumnya terjadi tiba-tiba dan dapat berhenti dengan sendirinya, namun biasanya kembali muncul dalam beberapa hari atau beberapa minggu kemudian. Selain itu, ibu hamil juga mungkin mengalami kontraksi dan nyeri di punggung atau perut bagian bawah.

Gejala yang menjadi peringatan awal plasenta previa tersebut lebih berisiko dialami oleh:

  • Wanita yang hami di usia 35 tahun atau lebih.
  • Wanita yang pernah melahirkan.
  • Wanita yang memiliki riwayat plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.
  • Wanita yang hamil kembar.
  • Wanita yang memiliki bentuk rahim abnormal.
  • Wanita yang memiliki kebiasaan merokok.
  • Wanita yang menggunakan kokain.
  • Wanita yang pernah menjalani operasi rahim, seperti karena sebelumnya melahirkan secara caesar, operasi pengangkatan fibroid rahim, dan sebelumnya pernah menjalani prosedur kuret.

Jika mengalami pendarahan di trimester kedua atau ketiga kehamilan, sebaiknya segera memeriksakan diri pada dokter kandungan. Plasenta previa dapat terdeteksi melalui pemeriksaan kehamilan rutin atau ketika Anda menjalani pemeriksaan setelah mengalami pendarahan vagina. USG dapat menunjukkan letak plasenta. USG transvaginal juga mungkin dilakukan untuk penggambaran lebih rinci guna memastikan diagnosis yang akurat.

Plasenta previa diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe, di mana masing-masing tipe menimbulkan dampka tersendiri pada apakah ibu hamil masih mungkin melahirkan secara normal, atau harus menjalni operasi caesar. Tipe-tipe tersebut, yaitu:

  • Partial, di mana plasenta hanya menutupi sebagian bukaan serviks. Dalam kondisi ini, ibu hamil masih dimungkinkan untuk melahirkan secara normal.
  • Low-lying, di mana plasenta berada pada posisi di tepi serviks. Ibu hamil masih berpeluang melahirkan secara normal.
  • Marginal, di mana plasenta menekan serviks tetapi tidak menutupinya. Kelahiran normal biasanya masih dianggap aman.
  • Major/complete, di mana plasenta menutupi serviks secara keseluruhan. Operasi caesar biasanya menjadi pilihan terbaik, dan terkadang bayi mungkin harus dilahirkan secara prematur.

Bila ibu hamil dengan pendarahan yang tidak kunjung berhenti, dokter akan menganjurkan prosedur caesar meski usia kandungan belum cukup bulan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY