Contoh Kasus Hipokondria atau Gangguan Psikologis

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Sebagai penyakit yang tergolong mengganggu psikologis seseorang, hipokondria pasti berawal dari sebuah pikiran negatif terhadap diri sendiri. Mungkin masih jarang di sekitar Anda ditemukan orang-orang yang didiagnosa hipokondria. Faktor yang bisa menyebabkan hal tersebut salah satunya adalah kurang pengetahuan yang benar akan penyakit yang dideritanya. Selain itu juga karena kesalahan dalam memilih dokter yang tepat, seharusnya penderita hipokondria berkonsultasi dengan psikolog atau dokter spesialis kejiwaan, agar kondisi psikologisnya kembali normal.

Bisakah Anda membayangkan hidup dengan penderita hipokondria ? Ternyata penderita hipokondria memiliki ciri-ciri yang sebenarnya biasa dialami oleh kebanyakan manusia, seperti ketakutan dan cemas. Hanya saja dirasakan lebih dari enam bulan dan perasaan tersebut diekspresikan secara berlebihan.

Untuk menambah wawasan Anda, berikut ini adalah contoh kasus hipokondria yang selama ini diketahui oleh publik. Contoh-contoh kasus tersebut ada yang nyata dan fiksi.

Kasus 1 :

Contoh kasus ini berasal dari sebuah film berjudul Hannah And Her Sister, diceritakan seorang tokoh di dalamnya yang bernama Mickey Sachs yang merasakan hal aneh yang mengganggu pendengarannya. Mickey merasa bahwa telinganya berdengung sepanjang hari. Akhirnya memutuskan untuk mengunjungi dokter, okter pun menyarankan Mickey untuk melakukan scan otak keesokkan harinya. Saat malam hari, Mickey khawatir hinga tidak bisa tidur. Ia cemas jika ternyata otaknya sedang bermasalah seperti ada sel kanker di dalamnya, namun saat keesokan harinya melakukan scan otak, hasilnya otak dalam keadaan baik-baik saja. Pada awalnya ia merasa senang mendengar diagnosa dokter. Pikiran Mickey berubah ketika tiba di rumah, ia berpikir bahwa hidupnya tidak akan berubah hanya karena hasil scan otaknya yang baik-baik saja, ia mungkin akan segera mati. Mickey mengalami ketakutan akan kondisi tubuhnya. Kasus Mickey dalam film tersebut digambarkan sebagai penderita penyakit hipokondria.

Kasus 2 :

Kasus ini bukan berasal dari cerita dalam film, hipokondria dialami oleh seorang ahli radiologi di suatu negara yang telah melakukan kunjungan di pusat diagnostik selama 10 hari. Awalnya, ia mengaku bahwa mengalami gangguan seperti sakit perut, perut terasa penuh dan keras, serta terdengar suara gemuruh di perutnya. Saat melakukan tindakan diagnostik, hasilnya adalah baik, tidak ditemukan adanya gangguan fisik di dalam tubuhnya terutama dalam sistem pencernaannya. Namun, hasil tersebut justru membuat ahli radiologi menjadi marah. Ia tidak mempercayainya, ia terus memeriksakan kondisi kesehatannya dan mengira sedang mengidap kanker kolon (usus besar).Hal lain yang membuktikan bahwa ahli radiologi tersebut mengidap hipokondria adalah, kebiasaannya memeriksakan kondisi jantungnya karena ia yakin bahwa kondisi jantungnya sedang buruk. Padahal, hasil pemeriksaan jantungnya selalu normal. Akan tetapi, ia tetap merasa hasil pemeriksaannya salah. Ahli radiologi tersebut jelas mengelak akan hasil medis tentang kondisi kesehatannya dan selalu merasa khawatir. Keduanya adalah tanda-tanda hipokondria

Kasus 3 :

Kasus terakhir adalah menimpa seorang wanita paruh baya yang merasa bahwa dirinya mengalami gangguan, berupa siklus menstruasi yang tidak teratur. Saat mencari tahu lewat berbagai surat kabar dan media, ternyata ia menyimpulkan bahwa dirinya terkena penyakit kanker rahim. Seketika wanita tersebut sangat mengkhawatirkan kondisinya dan menemui dokter untuk mengonsultasikan kondisinya. Ternyata dokter menjelaskan bahwa wanita tersebut tidak mengalami masalah pada rahimnya, ia hanya sedang dalam proses menuju menopause yang normal dialami oleh wanita seusianya. Wanita tersebut tidak percaya dengan pendapat dokter dan terus mencari tahu informasi tentang kanker rahim. Hingga ia memutuskan untuk berhenti bekerja karena takut memperburuk kondisinya. (SPT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here