Dampak Bentakan Terhadap Perkembangan Otak Anak

0
131

Kelekatan hubungan anak dan orang tua sangat berpengaruh bagi perkembangan otak dan psikologisnya. Tahukan Anda di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh?. Menurut penelitian, satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak dan satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan dapat membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga.

Perilaku anak yang menjengkelkan kerapkali membuat orang tua kehilangan kendalinya sehingga meluapkan emosinya melalui bentakan atau teriakan pada anak. Berteriak pada anak dapat menyebabkan kerusakan fisiologis disertai konsekuensi jangka panjang. Anak-anak yang sering dibentak cenderung menjadi takut dengan orang tua mereka sendiri. Hal tersebut dapat menciptakan ketidakpercayaan anak terhadap orang tua mereka sendiri.

Hasil penelitian Lise Gliot, seorang pakar biologi dan anatomi sel Chicago Medical School, Amerika Serikat, menyimpukan bahwa suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang berkembang terutama pada anak yang masih dalam pertumbuhan otak di masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan). Sedangkan pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak akan terbentuk indah.

Bentakan atau teriakan menghasilkan gelombang suara. Bentakan yang disertai emosi seperti saat marah menghasilkan suatu gelombang baru. Emosi negatif seperti marah menciptakan gelombang khusus yang dipancarkan dari otak. Gelombang ini bergabung dengan gelombang suara orang yang berteriak sehingga menciptakan gelombang ketiga dengan efek destruktif terhadap sel-sel otak. Hanya dengan satu bentakan saja, sejumlah sel-sel otak orang yang dijadikan target kemarahan akan mengalami kerusakan saat dia terkena gelombang ini. Hal ini terjadi karena gelombang ketiga ini tetap merambat sebagaimana gelombang suara dan langsung ditangkap oleh otak sebagai gelombang otak.

Efek kerusakan pada sel-sel otak akan lebih besar pada anak-anak yang dijadikan sasaran kemarahan. Remaja dan orang dewasa tidak mengalami kerusakan yang signifikan seperti pada anak-anak, tapi tetap saja terjadi kerusakan. Efek jangka panjangnya dapat dilihat pada orang-orang yang sering mengalami bentakan di masa lalunya. Mereka lebih banyak melamun dan cenderung lambat dalam memahami sesuatu. Orang-orang ini biasanya mudah meluapkan emosi negatif seperti marah, panik atau sedih. Mereka seringkali mengalami stress hingga depresi dalam hidup karena kesulitan memahami pola-pola masalah yang mereka hadapi. Semuanya hal tersebut merupakan akibat dari sel-sel otak yang aktif hanya sedikit dari yang seharusnya.

Marah tidak hanya mengganggu otak, tapi juga dapat mengubah fungsi organ tubuh. Seluruh jalan fungsi tubuh yang alamiah berubah pada waktu marah. Berdasarkan penelitian ilmiah, marah dapat menimbulkan berbagai perubahan dalam seluruh anggota tubuh seperti hati, pembuluh darah, perut, otak dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh.

Darah memiliki hormon cortisol yang biasanya meningkat dalam keadaan stres atau marah. Kadar hormon cortisol yang tinggi bisa merusak otak sebagai pusat memori. Hal inilah yang membuat orang pemarah cenderung menjadi pelupa. Oleh karena itu, ketika anak marah, untuk mengontrol emosinya, disarankan untuk merangkul, memeluk, mencium, atau mengusapnya dengan lembut. Semua sentuhan akan meningkatkan otak untuk memproduksi oksitosin atau hormon cinta.  Jika produksi oksitosin meningkat, hal tersebut dapat menekan cortisol sehingga seseorang bisa berpikir lagi dengan jernih. Oksitosin dalam hal ini dilepaskan sebagai respons terhadap kontak sosial terutama kontak fisik. Hormon ini dilepaskan setiap kita memeluk anak atau bayi, terutama pada saat menyusui. Kontak fisik yang teratur dan terus menerus dari orang tua cenderung akan membuat anak merasa aman dan nyaman.

*pic vonnyriska.student.umm.ac.id

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY