Dampak Difabel pada Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Difabel, berasal dari singkatan berbahasa Inggris ‘diffable’ yang merupakan kependekan dari differenly able atau yang juga sering disebut sebagai different ability. Istilah difabel merupakan sebuah upaya pengganti istilah penyandang disabilitas dan penyandang cacat. Penggunaan istilah difabel dimaksudkan untuk memberi sikap positif yang menekankan pada perbedaan kemampuan dan bukan pada keterbatasan, ketidakmampuan atau kecacatan baik fisik maupun mental. Istilah ini belum disahkan penggunaannya baik secara nasional maupun internasional.

Jika boleh memilih, tentunya tidak ada yang ingin dilahirkan dalam keadaan tidak sempurna baik fisik ataupun mental, terlebih lagi bagi mereka yang sudah menyandang difabel sejak lahir ataupun pada saat masih anak-anak. Namun, garis takdir yang membuat seseorang terlahir dalam keadaan seperti itu. Dalam menjalani hidup, orang yang terlahir sempurnapun tidak dengan serta merta mudah menjalani kehidupan, apa lagi mereka yang mempunyai keterbatasan fisik dan mental. Harus diakui, Keberadaan kaum difable atau penyandang disabilitas saat ini tidak sepenuhnya diakui. Ini terlihat dari minimnya pemenuhan hak, kebutuhan, dan perlindungan, bahkan diskriminasi.

  • Diskriminasi seksual. Banyak kasus pemerkosaan pada difabel justru diabaikan oleh keluarga, publik, serta penegak hukum. Tragisnya, tak jarang ditemukan keluarga yang pada akhirnya memilih melakukan sterilisasi pada rahim korban yang sempat terjadi kehamilan akibat pemerkosaan yang dialaminya. Padahal, efek pemerkosaan ke difabel bisa trauma berat atau malah memicu hasrat seksualnya agresif jika tidak direhabilitasi. Pada akhirnya, pelecehan seksual difabel tidak dilaporkan karena dianggap aib keluarga atau korban justru sengaja ditelantarkan. Persepsi umum terhadap difabel masih miring. Fungsi fisik yang tidak normal membuat penderita difabel jarang dianggap sebagai manusia utuh.
  • Diskriminasi hukum. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHP) belum sensitif disabilitas. Saksi difabel kerap diabaikan karena tidak masuk kategori kesaksian penuh, yakni yang mampu melihat, mendengar dan mengalami. Pembuktian mudah terhambat ketika kesaksian hanya dari korban dan sesama penyandang disabilitas. Adapun kesalahan lainnya yaitu asumsi korban berhubungan seksual karena dasar suka sama suka sampai hamil atau berulang. Asumsi seperti ini sangat merugikan korban tuna rungu yang susah berteriak atau tuna netra yang mudah ketakutan.
  • Diskriminasi transportasi/ fasilitas umum. Pada kenyataannya, cara disable yang berkursi roda masuk ke dalam bis memang cukup sulit. Selain pintu yang sempit, jumlah calon penumpang maupun penumpang yang sudah ada di dalam bis membuat mereka kerap terdesak, terlebih lagi di jam-jam sibuk pergi dan pulang kantor. Belum lagi halau harus transit di shelter yang dihubungkan dengan anak tangga, sehingga otomatis mereka memerlukan bantuan relawan. Ditambah lagi dengan koridor jalan yang sempit, sehingga aktifitas mereka akan memakan gerak dan waktu. Selain akses kursi roda ke fasilitas umumpun masih jarang ditemukan, begitu pula keberadaan trotoar yang ramah bagi kaum tuna netra.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY