Dampak Negatif pada Remaja Dari Pola Asuh Otoriter Orangtua

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Apa itu pola asuh otoriter? Pola asuh otoriter adalah pola asuh dengan pola yang bersifat membatasi dan menghukum, dimana pola asuh ini mendesak anak untuk mengikuti kata orangtua, harus hormat dan memiliki tingkat kekakuan yang tinggi. Pada pola asuh ini, intensitas komunikasinya cenderung sedikit. Anak yang dididik secara otoriter ini memiliki sikap yang kurang kompeten secara sosial, keterampilan komunikasi yang buruk dan takut akan perbandingan sosial. Pola asuh otoriter memungkinkan anak memberontak karena tidak terima dan bosan dengan pengekangan karena pada masa remaja, mereka cenderung mencari tahu banyak hal tanpa mau dibatasi. Dengan pola asuh ini, justru kemungkinan munculnya perilaku menyimpang pada remaja menjadi lebih besar.

Pola asuh otoriter merupakan kebalikan dari pola asuh otoritatif, yaitu cenderung menetapkan standar yang mutlak harus diikuti oleh anak dan biasanya dibarengi oleh ancaman-ancaman jika tidak mengikuti. Orang tua dengan tipe pola asuh seperti ini biasanya cenderung memaksa, memerintah dan menghukum anak apabila tidak melakukan apa yang diinginkan oleh orangtua, tidak mengenal kompromi dan sifat berkomunikasinya adalah satu arah.

Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak dengan aturan-aturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orangtua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang diajak berkomunikasi dan bertukar fikiran dengan orangtua, orangtua menganggap bahwa semua sikapnya sudah benar sehingga tidak perlu dipertimbangkan dengan anak. Dalam pola otoriter, hukuman merupakan sarana utama dalam proses pendidikan, sehingga anak melaksanakan perintah atau tugas dari orang tua atas dasar takut memperoleh hukuman dari orang tuanya.

Jika diperhatikan, pola asuh otoriter ini sangatlah berdampak negatif pada perkembangan mental anak. Anak akan merasa terkekang dengan semua peraturan-peraturan dari orangtua yang tidak memberikan kebebasan untuk mereka berpendapat maupun dalam mengambil keputusan. Setiap anak yang sudah terbiasa diperintah tanpa bisa memilih jalannya sendiri akan menjadi seorang yang tidak bisa menentukan tujuan hidupnya sendiri.

Dampak dari pola asuh otoriter adalah anak menjadi susah bergaul dengan anak lain akibat terlalu banyaknya perintah atau tuntutan dari orang tua mereka. Anak-anak dalam usia 6-12 tahun masih senang dengan bermain serta menemukan hal-hal baru. Mereka akan mencoba melakukan pekerjaan rumah tangga, bermain setiap olahraga yang mereka mau, membaca-baca buku, dan mencari tahu tentang apapun yang mereka temukan. Namun, hal tersebut banyak yang tidak bisa dirasakan oleh anak-anaknya karena orangtua yang banyak memaksa anaknya untuk melakukan setiap perintah yang orangtua katakan. Mereka tidak segan-segan untuk mehukum anaknya jika tidak menjalani setiap perintahnya. Orangtua banyak memaksa anaknya untuk mencapai apa yang ia inginkan tanpa memikirkan bagaimana caranya. Sehingga anak-anak menggunakan cara-cara yang tidak baik untuk mencapainya. Padahal, keberhasilan dicapai dengan kerja keras dan terdapat tahapan serta prosesnya.

Berikut beberapa dampak negatif dari pola asuh otoriter:

  • Anak tidak mempunyai kekuatan untuk mengatakan tidak
  • Anak akan bersikap “takut salah”
  • Tidak mempunyai kekuatan untuk memilih dan tidak bisa mengambil keputusan sendiri
  • Takut berbicara atau mengungkapkan pendapat
  • Anak pasif dan kurang berinisiatif
  • Anak tertekan dan merasa ketakutan, kurang pendirian dan mudah dipengaruhi
  • Anak ragu-ragu, bahkan tidak berani mengambil keputusan dalam hal apapun
  • Di luar lingkungan rumah, anak menjadi agresif, karena anak merasa bebas dari kekangan orang tua
  • Pelaksanaan perintah dari orang tua oleh anaknya, atas dasar takut pada hukuman
  • Anak suka menyendiri dan mengalami kemunduran kematangan (SFK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here