Dampak Perceraian Terhadap Mental Remaja

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Mempertahankan hubungan rumah tangga hingga diakhiri oleh maut adalah impian setiap pasangan. Namun, ada beberapa pasangan yang memilih untuk mengakhiri rumah tangganya dengan beberapa pertimbangan. Entah terjadinya masalah yang berulang dan terus terjadi, seringnya terjadi pertengkaran, terjadinya perselingkuhan, hingga masalah kekerasan dalam rumah tangga.

Perceraian terjadi pada pasangan yang belum atau telah memiliki anak, baik yang anaknya telah tumbuh dewasa, remaja, atau bahkan terjadi saat anak masih berusia sangat kecil. Dari perceraian yang terjadi pada kedua orangtuanya, jelas akan meninggalkan dampak pada anak-anaknya. Terlebih jika anak mereka menginjak usia remaja.

Dimana pada usia ini terjadi perubahan pola pikir, pencarian jati diri, dan mulai berubahnya hormon dalam tubuh anak. Di usia ini sedikit banyak anak sudah mengerti arti kehilangan orangtua yang dulunya tinggal dalam satu atap. Hilangnya satu orangtua membuat anak akan mengalami kurangnya kasih sayang. Entah kasih sayang dari ibu atau ayahnya.

Di indonesia, dalam waktu satu tahun ada 100.000 anak yang mengalami dampak buruk terjadinya perceraian kedua orangtuanya. Selain itu, di tahun 2011, Komisi Perlindunga Anak Indonesia (KPAI) mendapatkan data yang cukup menyedihkan, yakni adanya 2.239 anak yang terlantar akibat hubungan kedua orangtuanya yang disharmonis pasca bercerai.

Terjadinya ketidakstabilan emosi adalah dampak paling nyata dari anak yang orangtuanya bercerai. Dampak ketidakstabilan emosi ini akan dialami sejak sebelum orangtua mereka bercerai, saat proses perceraian berlangsung, hingga proses perceraian selesai, bahkan untuk waktu yang lebih lama.

Ketidakstabilan emosi ini bisa keluar dalam berbagai bentuk. Entah ia akan menjadi remaja yang pemarah, lebih sensitif, atau tidak menutup kemungkinan ia akan menjadi remaja yang menutup diri. Resiko buruk yang terjadi adalah hilangnya rasa percaya terhadap sebuah hubungan. Hal ini bisa terjadi, karena contoh yang ada dihapannya adalah terjadinya sebuah perceraian yang sebelum atau sesudahnya memiliki kondisi yang buruk.

Resiko memiliki perilaku kasar dan egois juga menjadi salah satu dampak negatif dar terjadinya perceraian. Mental yang tidak lagi kuat membuat remaja mudah melakukan tindak kekerasan. Tidak hanya itu, remaja yang orangtuanya bercerai akan lebih mungkin memiliki resiko untuk mencoba mengonsumsi narkoba, minuman keras, hingga terlibat dalam pergaulan bebas.

Kemampuan untuk mengeksplorasi diri juga akan berkurang bagi remaja yang mengalami perceraian pada kedua orangtuanya. Hal ini terjadi, karena remaja yang orantuanya bercerai memiliki masalah yang kompleks yang terjadi pada diri mereka dan keluarga. Sehingga kemampuan untuk menguasai diri akan lebih rendah dibanding dengan mereka yang memiliki keluarga utuh dan normal.

Selain itu, dampak lain yang akan terjadi ialah renggangnya hubungan antara anak dan orangtuanya. Mulai dari tempat tinggal yang akan terpisah, hingga orangtua yang dengan dirinya sendiripun masih dalam tahap penyesuaian pasca perceraian yang terjadi. (IKS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here