Dampak Pernikahan Dini pada Mental dan Psikologis Remaja

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Pernikahan dalam usia muda atau yang biasa diistilahkan pernikahan dini, mempunyai dampak negatif pada fisik dan psikologis remaja. Misalnya saja dari segi fisik, kondisi tulang panggul wanita masih terlalu kecil sehingga dapat membahayakan saat menjalani proses kelahiran. Lantas apa dampak pernikahan dini bagi mental atau psikologis remaja?

Bisa mengakibatkan depresi berat

Dampak psikologis yang paling sering terjadi adalah depresi berat atau yang juga diistilahkan neoritis depresi. Remaja yang memiliki kepribadian introvert (tertutup), akan membuatnya menarik diri dari lingkungan sosial. Remaja kecenderungannya menjadi sangat pendiam, enggan bergaul, bahkan bisa mengalami gangguan mental (gila).

Sementara itu depresi yang muncul pada remaja dengan kepribadian ekstrovert (terbuka), akan melakukan hal-hal aneh guna menyalurkan amarahnya. Misalnya saja seperti melempar benda-benda, mencekik anak, memecahkan barang, dan lain sebagainya.

Bisa mengakibatkan ketidakstabilan emosi

Di dalam pernikahan dini, tidak mudah menebak apakah pihak perempuan atau laki-laki yang bisa mengendalikan emosi. Kondisi emosi suami istri sama-sama masih labil, sehingga sulit beranjak pada keadaan normal.

Umumnya pasangan yang menikah dini, mulai menghadapi banyak masalah ketika sudah mempunyai anak. Kondisi emosi suami istri pun kerap berubah-ubah, seiring terpaan masalah yang datang. Sebaliknya ketika belum memiliki anak, keduanya masih bisa mengatur emosi karena tidak terlalu banyak aktivitas.

Bisa memunculkan perilaku yang tak terkontrol

Di usia yang masih terlalu muda, pasangan tersebut sudah memiliki tanggung jawab sebagai seorang suami dan istri. Tak mengherankan jika pada suatu kesempatan, psikologisnya tertekan dan berbuat sesuatu yang tidak terkontrol. Misalnya saja memukul, menendang, melempar, hingga marah-marah dengan masalah yang sepele.

Pernikahan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan remaja. Alhasil banyak pihak yang menyarankan kepada orangtua agar tetap memberikan pengawasan dan bimbingan pada putra-putrinya, meski sudah dinikahkan. Khususnya pada usia pernikahan 3 tahun pertama.

Tekanan psikologis mengakibatkan konflik dan perceraian

Remaja yang belum siap menata pernikahannya, akan mengalami kendala yang sangat berat. Suami atau istri harus belajar bertanggung jawab atas keputusan yang telah diambil. Namun yang dikhawatirkan banyak pihak adalah munculnya konflik di dalam rumah tangga yang tak menemui titik terang, berakibat pada perceraian.

Kestabilan emosi biasanya terjadi ketika seseorang memasuki umur sekitar 24 tahun. Pada usia tersebut seseorang mulai memasuki masa-masa dewasa. Di lain pihak pada usia 20 hingga 24 tahun dapat disebut sebagai usia dewasa muda. Pada masa ini umumnya mulai muncul transisi dari masa remaja ke dewasa.

Lantas bagaimana ketika pernikahan dilakukan saat seseorang masih berusia di bawah 20 tahun? Secara emosi remaja-remaja tersebut masih dalam tahap menemukan jati diri. Hal tersebut yang menjadi salah satu faktor penyebab pernikahan dini retan terhadap konflik yang berujung perceraian. (APY)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here