Dampak Positif dan Negatif dari Pernikahan di Usia Dini

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh salah satu pasangan yang memiliki usia di bawah umur atau di bawah 17 tahun. Pria atau wanita jika belum cukup umur (17 Tahun) apabila melangsungkan pernikahan dapat dikatakan sebagai pernikahan di usia dini. Khususnya di Indonesia pernikahan belum cukup umur ini marak terjadi, tidak hanya di desa melainkan juga terjadi di kota.

Pernikahan dini memiliki dampak positif dan negatif bagi yang melakukannya baik pria ataupun wanita dalam berbagai aspek seperti psikologi, kesehatan dan mental. Meskipun pernikahan di usia dini memiliki dampak positif, namun dibandingkan dengan dampak negatifnya tentu sangat tidak seimbang. Berikut ini uraian dampat positif dan negatif dari pernikahan di usia dini.

Dampak Positif

  • Adanya dukungan emosional, Dengan dukungan emosional ini maka dapat melatih kecerdasan emosional dan spiritual dalam diri setiap pasangan (ESQ).
  • Adanya dukungan keuangan, dengan menikah di usia muda atau dini dapat meringankan beban ekonomi menjadi lebih hemat karena ditanggung berdua.
  • Memiliki kebebasan yang lebih, dengan berada jauh dari rumah atau tempat tinggal sebelumnya maka dapat memberikan kebebasan bagi pasangan untuk melakukan hal sesuai keputusannya dalam menjalani hidup bersama, baik secara finansial maupun emosional.
  • Belajar memikul tanggung jawab di usia dini, banyak pemuda yang waktu sebelum menikah tanggung jawabnya masih kecil dikarenakan ada orang tua yang selalu membantu. Ketika sudah menikah tentu harus dapat mengatur urusan masing-masing tanpa bergantung pada orang tua.
  • Terbebas dari perbuatan dosa maksiat seperti zina dan lain-lain.

Dampak Negatif

  • Dari segi pendidikan

Dari segi pendidikan, Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa seseorang yang melakukan pernikahan khususnya di usia yang masih muda, tentu akan membawa berbagai dampak, terutama dalam dunia pendidikan. Contohnya jika sesorang yang melangsungkan pernikahan ketika baru lulus SMP atau SMA, tentu keinginannya untuk melanjutkan sekolah menempuh pendidikan yang lebih tinggi akan sulit tercapai. Hal tersebut dapat terjadi karena motivasi belajar akan mulai mengendur karena banyaknya tugas dan kewajiban yang harus dilakukan setelah menikah. Dengan kata lain, pernikahan dini dapat menghambat proses pendidikan dan pembelajaran.

  • Dari segi kesehatan

Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan, rata-rata penderita infeksi kandungan dan kanker rahim adalah wanita yang menikah di usia dini (dibawah usia dibawah usia 19 tahun). Terkait dengan risiko kebidanan, wanita yang hamil di bawah usia 19 tahun dapat berisiko kematian pada proses melahirkan. Risiko lainnya, hamil di usia muda juga rentan akan terjadinya pendarahan, keguguran, hamil anggur serta hamil prematur di masa kehamilan. Risiko meninggal dunia akibat keracunan pada saat kehamilan juga banyak terjadi pada wanita yang melahirkan di usia dini. Salah satunya penyebab keracunan kehamilan ini adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi.

  • Dari segi psikologi

Menurut para psikolog, ditinjau dari sisi sosial, pernikahan di usia dini dapat mengurangi harmonisasi dalam keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi kedua pasangan yang masih labil, gejolak darah muda dan cara berpikir yang belum matang.

Dengan demikian, dilihat dari berbagai sisi, pernikahan dini akan membawa banyak kerugian bagi salah satu pasangan. Oleh karenanya, orangtua wajib berpikir berulang kali jika ingin menikahkan anaknya yang masih dibawah umur. Bahkan pernikahan dini bisa dikategorikan sebagai bentuk  kekerasan psikis dan seks bagi sang anak, yang kemudian dapat mengalami trauma. (AGT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here