Dampak Puasa Terhadap Otak Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Selain sholat lima waktu dalam sehari, puasa di bulan ramadhan merupakan suatu kewajiban umat muslim. Rukun islam ketiga ini mengajarkan penganutnya untuk menahan hawa nafsu dimulai dari subuh hingga waktu maghrib tiba. Tidak hanya menahan nafsu makan dan minum selama 12 jam lebih di siang hari, hawa nafsu seksualitas dan emosi harus ditekan selama pelaksanaan ibadah puasa.

Sudah bukan hal yang asing lagi berbicara mengenai manfaat dari melaksanakan ibadah puasa itu sendiri. Selain manfaat secara agama mendekatkan diri kepada sang pencipta, sudah banyak penelitian yang menyatakan puasa memberikan dampak positif bagi tubuh baik terhadap kesehatan secara fisik maupun psikis.

Secara biologis, puasa berguna untuk proses detoksifikasi atau pengeluaran racun dari dalam tubuh. Selama tubuh tidak menerima asupan makanan disiang hari tubuh melakukan penyembuhan dan peremajaan sel-sel mati di dalam tubuh. Lazim jika orang yang berpuasa memiliki kesehatan yang lebih baik dari mereka yang tidak berpuasa.

Tidak kalah menarik untuk dibahas yaitu dampak puasa terhadap kondisi organ yang sangat penting sebagai pengendali seluruh kegiatan tubuh manusia yaitu otak. Menjadi pusat dari segala pengelolaan informasi yang didapat dari kelima panca indra, otak merupakan organ dengan fungsi utama, yaitu pengendali gerakan tubuh, pusat berpikir, intelijen, mengingat, dan berinovasi.

Sama seperti organ tubuh yang lain, otak juga melakukan peremajaan sel-sel otak selama puasa. Di dalam otak manusia terdapat sel yang disebut neuroglial cells, sel ini membantu membersihkan dan menyehatkan otak. Ketika berpuasa sel-sel neuron yang mati atau sakit akan dimakan oleh sel neuroglial cells.

Selain meremajakan sel-sel otak, ketenangan seseorang ketika berpuasa membuat tubuh terhindar dari berbagai resiko penyakit, bahkan yang mematikan seperti serangan jantung. Serangan jantung seringkali terjadi akibat tingkat emosional yang tidak stabil sehingga menyebabkan tekanan darah naik dan aliran darah ke jantung menjadi terhambat.

Ketenangan ini juga berpengaruh terhadap tingkat setres seseorang. Saat berpuasa seorang mampu mengontrol pola pikir dan emosinya sehingga terhindar dari setres. Setres itu sendiri merupakan pemicu daya ingat seseorang menjadi menurun karena beragam informasi sulit diterima oleh otak. Tidak hanya itu, puasa juga menghindarkan seseorang dari penyusutan volume otak akibat setres yang diderita.

Seiring berjalannya pelaksanaan puasa itu sendiri cenderung badan terasa lebih cepat lemas dan menjadikan kita malas. Kecenderungan melambatnya pikiran seseorang saat berpuasa justru membuat pikiran lebih jernih dan mampu berpikir lebih dalam. Dalam kondisi ini biasanya seseorang akan lebih mudah mengingat hal-hal yang seringkali dilupakan. Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika, mahasiswa yang melakukan puasa mengalami peningkatan nilai akademik dan kewaspadaan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY