Dampak Video Porno Terhadap Wanita

SehatFresh.com – Kecanduan video porno memang lebih identik dengan kaum pria. Pada kenyataannya, banyak juga para wanita yang memiliki kebiasaan nonton film porno. Bila Anda sudah terlanjur kecanduan menonton film porno, upayakan untuk segera berhenti dari kebiasaan tersebut. Bukan tanpa alasan, ini karena video porno bukan hanya menyebabkan kecanduan saja, tapi juga berpotensi merusak fungsi otak hingga menghambat keintiman antara Anda dan pasangan.

Secara umum, ketika menonton film porno, produksi dopamin akan meningkat sehingga membuat suasana hati lebih senang dan bahagia. Akan tetapi, frekuensi yang terlalu sering akibat ketagihan justru menurunkan sensitivitas otak terhadap rangsangan seksual yang sebenarnya. Pada akhirnya, otak membutuhkan lebih banyak dopamin untuk merespon rangsangan seksual. Ini menimbulkan keinginan yang lebih untuk menonton film porno lagi dan lagi.

Beberapa ahli menyebut bahwa kecanduan akibat pornografi sejajar dengan efek candu kokain. Sama dengan kecanduan lainnya, pecandu pornografi cenderung membutuhkan intensitas yang makin tinggi dengan materi porno yang semakin ekstrim agar dirinya mendapatkan kepuasan yang diharapkannya.

Menurut penelitian dari Duisburg-Essen University di Jerman, siapapun itu baik pria ataupun wanita yang menonton film porno secara teratur berisiko memiliki ketergantungan secara psikologis. Penulis utama penelitian tersebut bahkan mengibaratkan film porno sebagai kokain bagi wanita karena efek candu yang ditimbulkannya.

Menurut Gert Holstege, peneliti dari University of Groningen Medical Center  di Belanda, menonton film atau melakukan setiap tugas visual lainnya umumnya akan mengirimkan aliran darah ekstra ke daerah otak yang memproses rangsangan visual. Tapi, ini tidak terjadi ketika Anda menonton film porno. Aliran darah menjadi mengalir ke daerah otak yang bertanggung jawab untuk gairah seksual.

Dalam penelitiannya, Holstege mengamati korteks visual primer dari 12 wanita premenopause yang memiliki kecenderungan heteroseksual. Setiap wanita menonton tiga video sambil otaknya digambarkan oleh positron emission tomography (PET). Pemindaian ini mendeteksi perubahan menit dalam radioaktivitas otak yang sesuai dengan jumlah darah yang mengalir ke setiap wilayah tertentu. Daerah dengan lebih banyak darah mengalir adalah daerah yang dianggap lebih aktif.

Satu video yang digunakan dalam penelitian ini adalah video dokumenter sederhana tentang kehidupan laut di Karibia. Dua lainnya adalah film porno, di mana satu video hanya menampilkan foreplay dan stimulasi manual, sedangkan lainnya merupakan video porno yang lebih vulgar. Hasil pemindaian menunjukkan bahwa video porno intensitas tinggi mengakibatkan jauh lebih sedikit darah yang dikirim ke korteks visual utama. Hal ini berdampak pada tidak berfungsinya korteks visual utama otak yang berperan dalam penglihatan.

Disadari atau tidak, efek dari menonton video porno bisa menjadi penghalang keintiman antara suami dan istri. Film porno umumnya menampilkan adegan seks antara pria dan wanita yang terkadang “aneh” dan biasanya diperankan oleh wanita yang cantik dan seksi dengan kulit yang begitu halus dan mulus. Ini bisa membuat wanita kehilangan kepercayaan diri akan citra tubuhnya bahkan merasa ia tidak bisa memuaskan pasangannya karena standar kepuasan yang ia persepsikan dari adegan video porno. Adegan demi adegan yang dipertontonkan dalam film porno juga kerap menimbulkan obsesi berlebihan pada wanita. Fantasi seks berlebihan yang diciptakannya bila tidak terwujud akan membuatnya sulit untuk menikmati momen-momen intim bersama suaminya.

Dalam jangka panjang, menonton video porno bukan tidak mungkin menimbulkan berkurangnya rasa penghargaan terhadap hubungan monogami. Ini dilatarbelakangi oleh materi porno yang tidak mengandung unsur perhatian, tanggung jawab, dan cinta. Video porno kerap menggambarkan hubungan seksual yang mudah terjadi antara dua orang yang baru bertemu dan tanpa komitmen hubungan yang pasti.

Sumber gambar : catatanngocol.blogspot.co.id

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY