DARURAT GIZI Dan PENGHANCURAN GENERASI PENERUS

SehatFresh.com #DokterTalk  Periode tahun 2010 sampai 2035, bangsa kita dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa berupa potensi sumber daya manusia dengan usia produktif yang jumlahnya luar biasa. Populasi usia produktif yang jumlahnya luar biasa ini merupakan kesempatan emas yang baru pertama kalinya terjadi sejak Indonesia merdeka, jika kesempatan emas ini dapat dikelola dengan baik maka indonesia akan mendapatkan bonus demografi (demographic dividend), akan tetapi sebaliknya, bukan mustahil kesempatan emas tersebut menjadi bencana demografi (demographic disaster) bila tidak dapat dikelola dengan baik.

Tahun 2010 sudah lima tahun berlalu dan belum ada perubahan berarti. Waktu yang kita butuhkan untuk menikmati kesempatan bonus demografi yakni sampai 2035 kurang lebih 20 tahun lagi. Di tengah upaya untuk meraih bonus demografi Indonesia malah dihadapkan dengan masalah darurat gizi nasional dimana dari 117 negara di dunia, Indonesia masuk dalam darurat gizi. Hal ini disampaikan oleh Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan, Doddy Izwardy, sebagaimana diberitakan oleh ANTARA News pada 4 April 2015 yang lalu.

Pada tanggal 23 Juni 2015, harian Kompas memberitakan tentang 1.918 anak menderita gizi buruk di Nusa Tenggara Timur, dan tercatat 11 anak berusia di bawah lima tahun meninggal akibat gizi buruk. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama banyaknya kasus gizi buruk di kawasan Indonesia Timur, meski hal ini telah menjadi cerita tak berkesudahan tentang kesenjangan di republik ini sejakfaunding father memproklamirkan kemerdekaan. Namun ironisnya, berita gizi buruk justru juga muncul di daerah yang berdekatan dengan ibukota Negara. Pada 20 April 2011, Suara Pembaruan memberitakan tentang 9.378 balita gizi buruk di Banten yang tidak ditangani secara baik.

Sebuah ironi besar di negeri yang konon katanya merupakan negeri super makmur yang berlimpah semua sumber daya alamnya. Karena berlimpahnya kekayaan alam tersebut, negeri ini tak henti-hentinya menjadi magnet bagi bangsa lain untuk mengeruk kekayaan alam dengan jalan kolonialisme maupun neo-kolonialisme. Berbahayanya, negara seolah-olah tanpa sadar melanggar konstitusi terkait pengelolaan bumi, air, dan kekayaan alam yang seharusnya sepenuhnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Pasal 33 UUD). Daerah yang mengalami permasalahan sandang, pangan, maupun papan lebih banyak menjadi panggung kegiatan social maupun profit oriented  dari lembaga-lembaga non-pemerintah baik dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan bukan rahasia lagi jika daerah seperti Nusa Tenggara Timur maupun Papua menjadi “laboratorium raksasa” bagi segala macam penelitian dan uji coba.

Dr.Tirta Prawita Sari,MSc,Sp.GK, selaku Ketua Yayasan Gema Sadar Gizi menyampaikan bahwa gangguan gizi yang dialami oleh balita di masa golden periode (0-2 tahun) dapat mengganggu perkembangan otak, dan kondisi ini bersifat irreversible (sulit pulih kembali). Otak merupakan organ vital yang mempengaruhi hampir semua fungsi tubuh dan mental anak di kemudian hari. Dampak jangka pendek dari gizi buruk terhadap perkembangan anak adalah mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan lain. Untuk jangka panjang adalah penurunan tingkat kecerdasan (skor IQ), penurunan perkembangan kognitif, dan integrasi sensori. Hal ini sangat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dan produktivitasnya.

DR,Dr.Taufik Pasiak,M.PdI,M.Kes, Ketua Pengurus Pusat Neurosians Indonesia, menjelaskan bahwa untuk memperoleh karakter bangsa Indonesia yang unggul dan bermoral, dibutuhkan peningkatan kualitas otak manusia Indonesia. Perkembangan otak yang terganggu sebagai akibat dari gangguan gizi pada masa perkembangannya akan menciptakan generasi-generasi terbelakang, tidak jujur, tidak memiliki disiplin, tidak gemar membaca, yang dikhawatirkan jika jumlahnya sangat banyak maka tanpa disadari kita telah menghancurkan generasi akan datang dari bangsa ini.

Dr.Zaenal Abidin,SH,MH.Kes, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia menambahkan bahwa untuk menyehatkan bangsa ini dibutuhkan generasi yang sehat dan cerdas. Dari generasi itu akan tumbuh para professional muda yang siap membangun bangsanya. Indonesia masih membutuhkan dokter-dokter hebat yang hadir dari generasi sehat di masa depan. Jika Indonesia telah berada pada zona darurat gizi yang merupakan ancaman terhadap kualitas generasi ke depan, maka jangan berharap Indonesia akan lebih sehat, lebih makmur sebagaimana yang dicita-citakan banyak pihak.

Tanggung jawab terbesar terhadap perbaikan status sehat termasuk di dalamnya status gizi seluruh rakyat ada di pundak pemerintah. Pasal 142 ayat (3) Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas pemenuhan kecukupan gizi pada keluarga miskin dan dalam situasi darurat.

Pada tanggal 23 Juli, diperingati sebagai Hari Anak Nasional, seharusnya menjadi momen kontemplasi akbar bagi nasib generasi penerus bangsa jika kondisi kesehatan dan gizi yang buruk masih dijumpai di negeri ini. Pemerintah harus lebih serius untuk menjalankan program-program penopang keberhasilan upaya pengentasan permasalahan gizi dan situasi kesehatan secara umum. Program yang harus terus dikawal selama 10-20 tahun ke depan untuk memastikan dua atau tiga generasi ke depan masih dapat diselamatkan dan tumbuh menjadi generasi unggul.

Oleh : Dr.Mahesa Paranadipa,MH dan Syarifuddin Syaris,S.Kep

Sumber gambar : www.seputarpemalang.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY