Definisi, Gejala dan Pencegahan Endometriosis

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Istilah endometriosis mungkin masih terlalu asing di telinga orang awam. Endometriosis merupakan kondisi adanya stroma endometrium dan kelenjar di luar uterus yang paling sering mengenai ovarium atau permukaan peritoneum viseralis yang mengantung.

Definisi endometriosis

Endometriosis merupakan satu keadaan jaringan endometrium yang masih berfungsi, terdapat di luar kavum uteri. Jaringan tersebut terdiri atas kelenjar dan stroma, terdapat di luar uterus atapun di dalam miometrium (Prawihardjo, 2005).

Endometriosis juga bisa disebut radang terkait dengan hormon estrogen berupa perkembangan jaringan endometrium yang diikuti perambatan pembuluh darah, sehingga menonjol keluar rahim dan mengakibatkan pelvic pain.

Gejala-gejala endometriosis

  1. Dismenorea. Dismenorea merupakan nyeri perut bagian bawah yang progresif terjadi sekitar paha selama haid. Sementara itu dismonorea pada endometriosis umumnya merupakan nyeri ketika haid yang semakin lama menjadi berat. Hanya saja nyeri tak selalu didapatkan pada endometriosis, meskipun kelainan sudah meluas.
  2. Dispareunia. Dispareunia merupakan nyeri saat melakukan hubungan seks. Dispareunia yang sering ditemui disebabkan karena adanya endometriosis pada kavum Douglasi.
  3. Defekasi. Defekais yang sakit khususnya saat haid diakibatkan adanya endometriosis di dinding rektosigmoid.
  4. Hioermenorea dan polimenorea. Polimenorea merupakan panjang siklus haid yang memendek (Hendrik, 2006). Sementara hipermenorea merupakan perdarahan haid yang banyak dan lebih dari normal.
  5. Infertilitas merupakan keadaan seseorang tidak bisa hamil secara alami atau tidak bisa melewati kehamilan secara utuh.

Tempat ditemukannya endometriosis

Dirangkum dari berbagai sumber, urutan yang sering ditemukan endometriosis adalah pada tempat-tempat sebagai berikut.

  1. Pada Ovarium.
  2. Pada kavum douglasi, peritoneum dan ligamentum sakrouterinum, dinding bagian belakang uterus, tuba fallopii, logamentum rotondum, plika vesikounterina, serta sigmoid.
  3. Pada septum rektovaginal.
  4. Pada kanalis ingunalis.
  5. Pada apendiks.
  6. Pada umbilicus.
  7. Pada serviks uteri, kandung kencing, vagina, vulva, atau perineum.
  8. Pada parut laparotomi.
  9. Pada kelenjar limfe.
  10. Meski sangat jarang namun endometriosis juga bisa ditemukan pada lengan, paha, perikardium, dan pleura.

Pencegahan endometriosis

Disminorea yang parah apabila terjadi pada pasien muda, kemungkinan faktor tingkat sumbatan pada aliran haid perlu diperhatikan. Kemungkinan adanya suatu tanduk rahim tumpul di rahim bikornuata atau sumbatan septum rahim harus diatasi.

Beberapa pakar berpendapat jika kehamilan merupakan pencegahan yang paling efektif untuk endometriosis. Dari berbagai kasus terlihat bahwa gejala endometriosis akan berkurang pada waktu atau sesudah kehamilan. Hal itu dikarenakan regresi endometrium dalam sarang endometriosis.

Alhasil rencana perkawinan jangan ditunda terlalu lama, kemudian secepatnya diusahakan memiliki anak dalam jangka waktu yang tak terlalu lama pula. Langkah tersebut tak hanya sebagai profilaksis yang baik untuk endometriosis, tetapi juga menghindari terjadinya infertilitas sesudah endometrium muncul. (APt)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY